GARENG DADI GARONG

1.350 views
Bambang Sukmahadi berperang melawan Bambang Penyukilan, pada akhirnya menjelma jadi Gareng dan Petruk.
- Advertisement -

DEMIKIAN hening suasana di Bale Marcakunda, nampak sepi meski banyak penghuni. Sanghyang Bethara Guru (SBG), siang itu nampak marah sekali dalam sidang. Patih Bethara Narada, Bethara Penyarikan Nyebelin sekjen kadewatan, Bethara Indra Warkop; semua diam membisu. Baru saja mereka kena semprot, gara-gara menanggapi isyu-isyu politik di lapangan tidak secara peka tapi malah pekok!

Berita yang menyebutkan bahwa wayang ngercapada Bambang Sukmahadi, saban tahun pasok uang Rp 13 miliar ke Jonggring Salaka telah terjadi pembiaran, tak pernah diusut. Akibatnya jadi melebar ke mana-mana. Tak sekedar masuk  WA grup kahyangan, tapi uga sampai ke twiter, istagram. Sampai ada yang mengolok-olok: Betara Guru sudah terima tunjangan sertifikasi tiap bulan masih saja kurang.

“Kalian semua memang goblok, tak pernah sensitip menghadapi isyu negatip. Memangnya benar kabar itu, ha? Aku sendiri nggak pernah dibagi.” ujar SBG sambil menggebrak meja.

“Ha ha ha! Jas bukak iket blangkon, sama jugak sami mawon!” ujar Patih Narada kelepasan.

“Siapa itu yang omong? Belum pernah dikaplok Jepang ya?”

Gossip di Jonggring Salaka memang demikian heboh, Bambang Sukmahadi saban tahun setor Rp 13 miliar, dengan kompensasi harus jadi wayang menangan sedunia, sekalian panjang umur. Sayangnya SBG beserta anak buahnya sama sekali tak ada perhatian, padahal Bambang Sukmahadi bertapa di Gunung Candhalayasa bertahun-tahun, bokong pun kadung tepos. Jangankan usulan ditindaklanjuti, kwitansi tanda terima saja tidak ada.

Padahal jika Patih Narada cepat tanggap, maksudnya segera mengabulkan tuntutan tersebut, niscaya Bambang Sukmahadi tak bakal ngoceh kepada pers. Nasi telah menjadi bubur,  rakyat di ngercapada telah berasumsi bahwa kahyangan memang gudang “anggaran di sarang penyamun” seperti buku karangan Suman Hs terbitan Balai Pustaka. Gila memang, menuduh orang kok waton nyata!

- Advertisement -