Pin Emas Atau Piagam?

3.429 views
Sekedar contoh, Pin untuk anggota DPRD DKI. Emas atau kuningan saja?
- Advertisement -

KEDUDUKAN wakil  dengan yang diwakili, tinggi mana derajatnya? Menurut akal sehat, tentu yang diwakililah. Sebab sebetulnya wakil itu hanya suruhan orang yang diwakili. Tapi dalam demokrasi kerakyatan, menjadi terbalik-balik. Kini wakil rakyat alias DPRD atapun DPR menjadi lebih tinggi posisinya, ketimbang rakyat yang diwakili. Kesejahteraan mereka jauh lebih baik pastinya. Namun demikian, setelah purna tugas masih juga minta dapat kenang-kenangan dari negara maupun Pemda. Uang lebih bagus, Pin emas juga tak mengapa, karena sepertinya telah menjadi tradisi.

Sebetulnya apa sih Pin itu? Yang jelas antara Pin dan PIN memang beda. PIN adalah Personal Identification Number atau nomer identifikasi pribadi. Jaman Orde Baru, di masa Menpen Harmoko beda lagi, PIN adalah Pusat Informasi Nasional, tugasnya mau menyaingi Mbah Google sekarang, cari informasi apa saja PIN mampu menjawab.

Tapi faktanya, sebelum jabatan Menpen Harmoko selesai, PIN itu telah meredup dan menghilang, apa lagi setelah hadir Mbah Google belasan tahun kemudian. Jangankan PIN tidak hilang, wong kementriannya juga dihilangkan Gus Dur, mengecil menjadi Kominfo (Kementrian Komunikasi dan Informasi) saja. Tugasnya bukan lagi memberi penerangan pada rakyat, tapi mengawasi dan mengontrol informasi yang masuk ke rakyat.

Beda  pula dengan Pin, barang ini meski kecil bentuknya, tapi gede manfaatnya. Soalnya akan menambah gengsi pemiliknya, bahwa dirinya seorang pejabat negara, misalnya anggota DPR maupun DPRD, warga negara yang beda kelas, lebih tinggi dari rakyat biasa. Lebih tinggi derajatnya, lebih tinggi pula pandapatannya. Bayangkan, rakyat yang diwakili masih ada yang berpenghasilan di bawah Rp 4 juta sebulan, sedangkan mereka, meski di tingkat DPRD saja, minimal bawa pulang Rp 25 juta. Contohnya anggota DPRD Jombang (Jatim), masa kerja baru seminggu, tanggal 1 September akan menerima gaji pertama Rp 25 juta.

- Advertisement -