Disertasi Zina Cari Perkara

501 views
Disertasi mahasiswa S-3 UIN Sunan Kalijaga, Abdul Aziz tentang konsep keabsahan hubungan seks nonmarital mengundang reaksi keras ulama dan tokoh Islam. (foto:republika .com)
- Advertisement -

ENTAH apa motivasi Abdul Aziz dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mengutak-atik konsep keabsahan hubungan seksual tanpa nikah yang menjungkirbalikkan ajaran Islam dalam disertasinya.

Tentu saja, konsep milk al-yamin yang diyakini oleh Muhammad Syahrur asal Suriah, tetapi lama menetap di lingkungan komunis yang atheis di negeri Rusia, memicu reaksi keras dari para tokoh agama dan ulama Islam.

Pihak UIN Sunan Kalijaga sendiri, melalui promotor disertasi, Khoirudin Nasution, harus buru-buru angkat bicara demi menghindari agar kontroversi terkait isu amat sensitif bagi umat Islam ini tidak menjadi bola liar, “digoreng” oleh orang-orang yang ingin memperkeruh situasi.

Milk al-yamin secara harfiah bisa diartikan sebagai ‘kepemilikan penuh’ para majikan di masa Islam jahiliyah lalu untuk mengawini jariyah (budak perempuan) dengan catatan, ia wajib berlaku adil.

Namun Syahrur kemudian memperluas makna konsep milk al-yamin, tidak hanya sebatas persoalan budak yang boleh dinikahi, tetapi juga menganggap hubungan seksual nonmarital, pada batasan tertentu tidak dilarang. Persoalan itu lah yang dikupas Aziz dalam disertasinya.

Batasannya, hubungan seksual nonmarital bisa dilakukan laki-laki lajang mau pun sudah menikah, kecuali bagi perempuan, hanya mereka yang masih lajang dan dilakukan suka sama suka, dengan komitmen atau tanpa paksaan.

Penguji lainnya, Sahiron menilai, analogi antara budak dengan orang yang diikat kontrak seperti yang dikemukakan Muhammad Syahrur sebenarnya juga bisa dipertentangkan, karena hanya menilai aspek seksualitasnya saja.

“Problem penafsiran Syahrur atas ayat-ayat tentang milk al-yamin terletak pada hilangnya makna historis dan maksud atau pesan utama ayat itu (demi kemanusiaan),” ujarnya.

“Pemikiran Syahrur dalam konsep milk al-yamin ala Syahrur tidak komprehensif, dan secara konseptual masih dipertanyakan. Apalagi kemudian jika diterapkan di tengah masyarakat,” tutur Sahiron.

- Advertisement -