Hong Kong Menghitung Hari

448 views
Hong Kong terus dilanda aksi unjuk rasa menentang pengesahan RUU Ekstradisi walau pasukan China sudah bersiap-siap turun tangan di Provinsi tetangganya, Shenzen.
- Advertisement -

ESKALASI aksi-aksi unjukrasa di Hong Kong sejak tiga bulan terakhir ini belum ada tanda-tanda mereda, entah kapan berujungnya, padahal penguasa Beijing sudah meminta segera dihentikan.

Para anggota parlemen Hong Kong pro-Beijing mengindikasikan, otoritas wilayah adminsitrasi China itu, Carrie Lam (62), diberi tenggat waktu penanganan demo sebelum HUT ke-70 RRC, 1 Oktober nanti.

Aksi massa yang diawali penolakan terhadap RUU Ekstradisi yang memungkinkan tersangka pidana diadili di daratan China, lalu bergeser ke upaya melengserkan Lam yang dianggap pro-Beijing.

Polarisasi semakin tajam antara mayoritas total sekitar 7,4 juta penduduk Hong Kong didukung sejumlah politisi melawan kubu otoritas Hong Kong di bawah Carrie Lam dan rezim pemerintah China daratan.

Posisi Lam sendiri berada diujung tanduk, di satu sisi nenek berusia 63 tahun itu harus membela rakyatnya, namun ia juga ditekan oleh Beijing untuk bergeming dari tuntutan warga dan tidak melakukan investigasi terhadap kekerasan yang dilakukan aparat.

Unjukrasa yang berlangsung tanpa henti sejak Juni lalu bahkan dengan aksi penyerbuan ke stasiun KA Prince Edward Sabtu lalu (31/8), mengulangi aksi sama sebelumnya ke stasiun KA Yuen Long 19 Juli lalu.

Penangkapan terhadap tokoh aktivis Joshua Wong dan sejumlah rekannya ats tuduhan menggerakkan dan ikut dalam unjukrasa ilegal ternyata tidak menyurutkan massa menghentikan aksi-aksinya.

Pengamat masih menduga-duga apa yang dilakukan Beijing jika Lam gagal mengatasi aksi-aksi sesuai tenggat waktu yang ditentukan.

Yang jelas, ribuan satuan paramiliter China sudah melakukan intensif dan ditempatkan di provinsi Shenzen, tetangga Hong Kong yang bisa ditempuh berkendara dalam dua jam.

Rezim Beijing sendiri agaknya harus berfikir ribuan kali untuk menyerbu Hong Kong, selain mengingkari konsep “satu negara dua sistem” yang menjadi slogannya, juga terhadap risiko kerugian, ekonomi mau pun sanksi internasional.

- Advertisement -