PM Inggris Terjungkal Isu Brexit

451 views
Kubu Fraksi Partai Konservatif PM Inggris Boris Johnson kalah dalam pemungutan suara yang digelar di parlemen,Selasa (3/9) terkait Brexit dari UE tanpa kesepakatan, sehingga harus menggelar pemilihan sela 17 atau 18 Okt. nanti.
- Advertisement -

PM INGGRIS Boris Johnson tidak punya pilihan selain menyerukan pemilihan dini setelah kelompok oposisi termasuk dari fraksi konservatif kubunya di parlemen membangkang terkait isu Brexit.

Dengan hasil 328 melawan 301 suara dalam voting yang digelar di majelis rendah, Selasa (3/9), majelis rendah bisa mengajukan mosi untuk menunda keluarnya Inggris (Brexit) dari Uni Eropa (UE) dan memblokir langkah Johnson untuk keluar “tanpa kesepakatan”.

Kubu oposisi dan anggota Partai Konservatif yang membangkang di parlemen menilai, niat Johnson hengkang dari UE pada 31 Okt. meski tanpa kesepakatan bakal menjadi bencana bagi ekonomi Inggris.

Langkah Johnson direspons oleh kubu oposisi (Partai Buruh, Liberal Demokrat dan Partai Nasionalis Skotlandia) serta para konservatif pembangkang dengan mengajukan RUU yang mewajibkan pemerintah menunda tenggat Brexit jika gagal mencapai kesepakatan dengan UE.

Philip Lee dari kubu konservatif yang membelot ke pihak oposisi menilai, cara pemerintah mengupayakan Brexit merusak dan tidak berprinsip, serta mempertaruhkan nyawa dan pencaharian rakyat.

Johnson yang baru diangkat menjadi perdana menteri 23 Juli lalu kepemimpinannya tengah diuji, berhadapan dengan kubu oposisi di parlemen, sekaligus dengan anggota Fraksi Partai konservatif pimpinannya yang membelot ke kubu posisi.

Mantan Menteri Kehakiman David Gauke merupakan salah satu anggota konservatif yang blak-blakkan menentang langkah Johnson untuk Brexit tanpa kesepakatan UE, walau PM Inggeris ini sebelumnya menyatakan, akan memecat anggotanya yang membangkang.

“Kepentingan Inggris adalah prioritas. Brexit (dari UE) tanpa kesepakatan bakal mendegradasi kesejahteraan rakyat dan mengancam keamanan serta persatuan Inggris Raya, “ tandasnya.

Johnson sendiri bertekad membawa negaranya hengkang dari UE pada 31 Oktober nanti, dan jika klausul “backstop” yang diberlakukan UE tidak dicabut, ia mengancam, Inggeris akan keluar dari perhimpunan bangsa-bangsa Eropa itu tanpa kesepakatan.

- Advertisement -