Trotoar Untuk Siapa?

481 views
Trotoar di Ibukota diperlebar, mengorbankan badan jalan. Akhirnya kemacetan terjadi di mana-mana.
- Advertisement -

ANDAIKAN trotoar bisa ngomong, maka trotoar sepanjang Jl. Gajahmada dan Hayam Wuruk, Jakarta Barat,  akan berebut protes ke Pemprov DKI, kenapa sering sekali dibongkar pasang? Apa memang sengaja dibuat “proyek”? Tak tahulah sekarang! Apa di era Gubernur Anies Baswedan juga ikut jadi korban pelebaran trotoar di mana-mana? Katanya sih untuk memfasilitasi pejalan kaki, tapi katanya pula juga untuk memberi ruang pedagang kaki lima (PKL) mengais rejeki. Sebetulnya trotoar dibangun untuk siapa sih?

Pepatah lama mengatakan, sambil menyelam minum air. Semua anak sekolah pasti tahu maksudnya. Tapi dalam persepsi Gubernur Anies Baswedan,  bisa dimaknai: trotoar bisa untuk pejalan kaki sekaligus untuk PKL. Oleh karenanya, meski penyalahgunaan trotoar (Jl. Jatibaru, Tanah Abang) digugat orang,  Gubernur Anies bergeming. Meski Pemprov DKI dinyatakan kalah oleh MA,  trotoar terus diperlebar ke mana-mana.

Gubernur Anies Baswedan pernah mengatakan, kaki adalah alat transportasi pertama umat manusia. Manusia modern seakan melupakannya, karena lebih nyaman dan cepat dengan kendaraan bermotor. Orang sekarang menjadi manja, jalan kaki 500 meter saja merasa berat, sehingga pilih naik kendaraan.

Mengajak warga DKI membiasakan jalan kaki, Gubernur Anies kini sedang getol perlebar trotoar di mana-mana. Rp 300 miliar dianggarkan untuk itu. Padahal pelebaran itu selalu memakan badan jalan, sehingga jalanan jadi sempit. Demi memanjakan pejalan kaki, pengendara mobil dan motor dan angkutan kota harus rela menjadi korban kemacetan lalulintas yang semakin parah.

Untuk menghargai dan menghormati kebijakan gubernurnya, sebaiknya PNS DKI ngantor jangan pakai mobil. Pejabat tak perlu dapat mobil dinas. Semua menggunakan transportasi utama sejak lahir, termasuk gubernurnya sekalian. Yang penting, maju kotanya theklok (capek) kakinya!

- Advertisement -