Kisah Pedagan Senapan Angin : Satu Hari Belum Tentu Ada yang Beli

4.118 views
- Advertisement -

JAKARTA – Seorang kakek nampak berjalan santai menyusuri tepi jalan raya sembari memanggul tumpukan senapan angin. Agar tak jatuh senjata dengan bobot total 15 kilogram itu diikat erat menggunakan karet hitam di kedua ujungnya. Saat itu Edi membawa empat buah senjata laras panjang. Di sakunya tersimpan peluru kecil berwarna perak.

Edi merupakan pedagang senapan angin asal Bekasi, Jawa Barat. Tetapi kakek berusia 63 tahun itu bukan produsen, melainkan pengecer. Bila satu unit senapannya ada yang terjual, ia mesti menyetor uangnya ke pengusaha senapan angin tersebut di Surabaya.

Untuk satu buah senapan angin, Edi bandrol mulai dari Rp 800 ribu hingga Rp 2,5 juta dan dalam sehari Edi bisa meraup Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu dari satu senjata yang laku terjual.

“Harga segitu masih bisa nego. kalau yang ukurannya lebih panjang dan lebih kencang harganya lebih mahal,” ujar Edi yang sudah 30 tahun menjual senapan angin keliling.

Namun tak jarang juga Edi pulang dengan tangan hampa. Kendati demikian ia tetap menerapkan teknik jemput bola ketimbang membuka lapak.

“Satu hari belum tentu ada yang beli,” ucapnya seperti dilansir WartaKota (10/9).

Bila tengah berkeliling sering pula ia dijauhi warga yang takut. Pasalnya, mereka mengira senjata angin itu merupakan senjata api.

“Ada aja orang yang ngomong takut. Bilangnya serem,” bebernya.

Namun, tak sedikit masyarakat yang menyukai jualan Edi itu. Banyak masyarakat yang membutuhkan senjata angin itu untuk mengusir binatang pengganggu.

“Biasanya untuk nembak tikus dan burung. Tapi mereka juga suka beli senjata api saya alasannya buat nakut-nakutin maling,” ujarnya.

- Advertisement -