Ketika Wakaf Dimaknai Menahan Harta Selama Mungkin

444 views
- Advertisement -

 

JAKARTA (KBK) – Ditinjau dari segala aspek wakaf tidak masuk ke dalam rukun islam namun memiliki percabangan dari rukun islam ke tiga. Menurut Dewan Syariah Dompet Dhuafa Prof Dr M Amin Suma secara harafiah wakaf adalah menahan harta, baik dalam jangka pendek, menengah dan panjang.

Di sini harta wakif ‘ditahan’ untuk dikembangkan selama mungkin. Selama ‘ditahan’ nilai harta tersebut tidak boleh berkurang, justru nilai harta harus ditambah dan keuntungan dari nilai tambah itu mesti dibagikan kepada maukufalaih atau penerima manfaat. Menurut Amin harta yang diwakafkan tidak bisa selamanya, melainkan hanya dibolehkan selama mungkin.

“Empat tahun setelah pensyariatan zakat baru muncul pensyariatan wakaf. Dasar wakaf di Al Quran ada tetapi tidak spesifik. Paling jelas wakaf tertuang pada sabda nabi contoh jelas yakni Umar Bin Khatab. beliau punya kebun dan ingin didayagunakan untuk kepentingan orang banyak. kuncinya pertahankan nilai aset, namun hasil panennya dibagikan kepada masyarakat untuk kepentingan umum,” jelas Amin dalam diskusi publik bertajuk RUU Pertanahan dalam perspektif penguatan wakaf (12/9).

Sedangkan di Indonesia kata Amin wakaf diajarkan dalam bentu tanah yang justru dibuat menjadi kuburan, masjid atau madrasah. Padahal wakaf juga bisa dalam bentuk uang dimana penggunaanya bisa diprokduktifkan untuk aset wakaf.

wakaf seketika tidak boleh habis, maksudnya agar bisa digunakan untuk berulang-ulang.

- Advertisement -