Polusi Udara Repotkan Polisi

653 views
Polantas di Jakarta mulai memelototi plat nomer ribuan mobil yang melintas di depannya.
- Advertisement -

KEBIJAKAN ganjil-genap (Gage) awal-muawalnya digagas untuk mengurangi kemacetan lalulintas. Tapi karena pertimbangan tertentu, Gubernur Ahok batal melaksanakan dan diganti dengan sistim ERP (Electronic Road Pricing = jalan berbayar). Ganti gubernur, program itu tak ada kabarnya lagi. Gubernur Anies Baswedan sekarang lebih mengutamakan kwalitas udara ketimbang kemacetan. Maka sejak Agustus lalu aturan Gage diberlakukan di sejumlah ruas jalan Ibukota dan mulai 9 September diperluas, dari 16 menjadi 25 jalan. Resikonya, demi mengatasi polusi petugas polisi (lalulintas) harus diperbanyak dan siap jereng memelototi plat mobil.

Pembatasan kendaraan  mobil melalui Gage ternyata hanya efektip mengurangi polusi, tapi kemacetan pindah tempat. Dan yang menjadi korban selalu golongan ekonomi menengah ke bawah. Bagi orang kaya sih, Gage tak menjadi masalah, karena mobil di rumah lebih dari satu. Andaikan mobil di rumah bernomor genap semua, tinggal beli lagi dan pesan plat yang bernomor ganjil.

Program Gage di Jakarta sebetulnya sudah digagas jaman Gubernur Ahok, tapi karena pertimbangan tertentu, dibatalkan. Rencananya pakai ERP, yakni jalan berbayar di sejumlah jalan di Jakarta. Tapi sepertinya program ini sudah terlupakan, karena Gage menjadi kebijakan Gubernur Anies.

Kenapa sistem Gage tiba-tiba diberlakukan di Ibukota? Ini semua gara-gara hasil survei yang dirilis AirVisual. Pada pukul 06.00 WIB udara DKI berada pada level tidak sehat dengan parameter US Air Quality Index (AQI US) 130 atau berkategori tidak sehat bagi masyarakat sensitif. Angka itu terpaut 23 poin lebih rendah dari Dubai, Uni Emirat Arab yang menduduki peringkat pertama kota dengan kualitas udara terburuk 153, dan Beijing, China, yang menduduki peringkat kedua kota terpolutan di dunia dengan angka indeks 137.

- Advertisement -