ABIYASA MUKSWA (1)

458 views
Setelah menjadi begawan di Candi Saptaharga, Abiyasa mengangkat jubir cantrik Sapto Nyebelin.
- Advertisement -

BEGAWAN Abiyasa merupakan tokoh yang sangat dihormati di jagad perwayangan. Meski nama depannya pakai “abi”, dia bukanlah anggota partai PKS. Tapi dia memang abi (ayah, Bahasa Arab)-nya bangsa Kuru yakni Pandawa dan Kurawa. Semua problem apa saja yang terjadi di negeri Amarta pimpinan Puntadewa dan Astina pimpinan Duryudana, selalu minta petunjuk bapak Begawan Abiyasa.

Lalu cantrik Sapta Nyebelin selaku jubir pertapan Saptaharga memberi keterangan pada pers dengan tutur kata yang terpatah-patah, karena saking hati-hatinya. Maklum, meski santun dan seiman, Sapta Nyebelin bukan ahli menata kata. Dia takut ucapannya keselio lidah lalu dipelintir oleh pers. Maka cantrik Sapto sampai dijuluki “nyebelin” karena jika di depan pers selalu pakai kata yang aaa dan eee…..melulu.

“Katanya penasihat kerajaan Amarta-Astina, tapi ketika dua negara itu bertikai memperebutkan negeri Astina kok Begawan Abiyasa diam saja?” Tanya pers pada Sapto Nyebelin.

“Karena eee…..,  beliau mantan raja Astina yang tak mau ngrepotin para penerusnya. Eee…., biar saja mereka menyelesaikan sendiri, Begawan Abiyasa tak mau intervensi. Eee….., mereka kan sudah gedhe-tuwa (dewasa),” jawab cantrik Sapto nyebelin terbata-bata.

Memang, Begawan Abiyasa dulu sempat menjadi raja di Astina, menggantikan Wicitrawirya yang mati muda. Tapi sesungguhnya Prabu Kresnadwipayana itu tidak suka kekuasaan. Apa artinya kekuasaan, jika jadi raja malah berumur pendek seperti raja Astina sebelumnya, yakni kakak beradik Citragada-Citrawirya. Enakan jadi orang biasa tapi panjang usia, bebas bully dan demo oleh rakyatnya.

Maka diam-diam raja Astina ini pergi ke kahyangan Ngondar-andir Bawana, sowan Sanghyang Wenang. Beliaunya mau minta petunjuk, bagaimana caranya bisa hidup panjang umur, istri banyak, tak punya utang di bank, bebas dari kewajiban setor LHKPN tiap tahun ke KPK.

- Advertisement -