Membatasi Janda Muda

343 views
Sidang perceraian di Pengadilan Agama. Vonisnya berimplikasi bertambahnya janda dan duda.
- Advertisement -

KITA memang bangsa ahli menata kata. Sebuah kosa kata diperhalus agar menjadi enak didengar dan santun. Sekedar contoh, ledakan penduduk disebut: bonus demografi. Padahal jika tidak ditangani dengan baik, efeknya sami mawon. Bikin sengsara penduduk Indonesia secara mayoritas. Ledakan penduduk diatasi dengan KB, dan kini pemerintah sedang mengantisipasi ledakan janda-duda lewat revisi UU Perkawinan No. 01 tahun 1974. Yang disasar pasal 7 ayat 1 tentang usia calon pengantin, dengan harapan bisa mengurangi populasi janda-duda khususnya, dan jumlah penduduk pada umumnya.

Dalam UU Perkawinan No. 01 tahun 1974 pasal 7 ayat 1  disebutkan, usia minimal calon pengantin 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria. Tapi kini DPR dan pemerintah sepakat semua dipukul rata sama, yakni 19 tahun. Tujuannya untuk mengurangi populasi janda dan duda.

Sekedar contoh, di Mojokerto (Jatim) populasi janda dan duda meningkat tajam, akibat perkawinan dini. Tahun 2019 ini misalnya, janda baru 1.201 orang. Tahun 2018 sebelumnya, tercatat 3.142, dan tahun 2017 sebanyak 3.759, sementara tahun 2016 sebanyak 1.583. Bagaimana dengan popolasi dudanya, mestinya berbanding lurus. Sebab dalam prakteknya, banyak juga pria melakukan “madu bersyariah” alias poligami. Akibatnya, meski lelaki ini telah  menghadirkan janda baru, tapi dia sendiri tidak otomatis mendudu, karena ada stok lain,  bisa dua atau tiga.

Mobil bekas pakai, harga biasanya turun. Tapi di daerah tertentu, status janda justru menaikkan “status” si janda menjadi lebih mahal. Mungkin karena lebih berpengalaman, mungkin karena ada juga lelaki yang suka jadi “generasi penerus”. Lelaki ini punya prinsip, bekas pakai nggak masalah, yang penting kan perawatan, ganti olie tak pernah telat!

- Advertisement -