Musibah Dana Hibah

640 views
Sidang korupsi dana Hibah KONI, yang pada akhirnya menyeret Menpora Imam Nahrowi.
- Advertisement -

MERUJUK pada KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia), pengertian hibah adalah: pemberian hak sesuatu pada pihak lain dengan sukarela. Jika hal ini terjadi antar lembaga negara, di era gombalisasi ini sering menjadi tidak sukarela lagi! Musti ada embel-embelnya berupa komisi atau suap. Gara-gara inilah, dana hibah bisa jadi musibah dan bikin heboh. Akibatnya, seorang menteri bernama Imam, memilih mundur dadi jabatan Menpora karena merasa tak patut menjadi “imam” lembaga negara tingkat kementrian!

Dalam Islam memberi itu lebih mulia ketimbang yang menerima, maka hadits Nabi pun mengatakan, “Tangan di atas lebih mulya daripada tangan yang di bawah.” Tapi jika dikaitkan dengan dana hibah, termasuk Bansos, DAU (Dana Alokasi Umum), justru sering terbalik-balik; yang lebih mulia justru tangan yang di bawah. Soalnya tangan di atas minta bagian dari dana tersebut. Jika tak dibagi, dana urung keluar.

Di kalangan pemerintahan, baik pemerintah pusat maupun daerah banyak terjadi hil-hil mustahal bagaikan Abu Jahal ini. Ada pejabat tingkat kabupaten mengambil DAU ke pusat. Sebut saja dana itu seharusnya Rp 1 miliar, tapi faktanya dia hanya menerima Rp 950 juta. Yang Rp 50 juta ke mana? Ya wasalamlah!

Beberapa tahun lalu (2016), Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho jadi tawanan KPK juga gara-gara penyimpangan dana Hibah dan Bansos. Walikota Bandung Dada Rosada idem dito, gara-gara dana Bansos dia ditangkap KPK dan  harus meninggalkan kursi walikota Bandung, dadaaaa….! Menyusul kemudian Wabub Cirebon Tasiya Sumadi (2012), Helmi Hasan Walikota Bengkulu (2012), dan Wagub  NTT Beny Litelnoni (2010).

Begitulah nasib pejabat. Gara-gara dana Bansos harus merongos (gigit jari). Gara-gara dana Hibah pejabat bisa kena musibah. Dan kini yang sedang heboh, adalah Menpora Imam Nahrowi, yang dijadikan tersangka KPK juga karena dugaan suap dana Hibah KONI sampai Rp 26 miliar. Padahal harta dia selama ini “hanya” tercatat Rp 22 miliar sesuai LHKPN. Luar biasa, jumlah suap yang diterima lebih gede ketimbang hartanya. Pantesan orang pada rebutan jadi menteri.

- Advertisement -