ABIYASA MUKSWA (II)

390 views
Patih Sengkuni selalu ngompori Prabu Jakapitono agar mempertahankan negeri Astina.
- Advertisement -

KERAJAAN Astina sekarang telah berganti pimpinan, dari Prabu Kresna Dwipayana kepada Pandu, yang kemudian bergelar Prabu Pandu Dewanata, karena kebetulan dia juga gemar musiknya Dewa Bujana dari Grup Gigi. Awalnya Prabu Pandu mau bergelar: Kalipatulah Sayidin Panatagama, Raden Ngabei Loring Pasar. Tapi dilarang dewa, karena itu gelar khusus keturunan raja-raja Mataram.

Sebagai raja negeri Astina, mestinya Prabu Pandu berhak koleksi bini banyak-banyak-banyak, tapi dia hanya dua saja, yakni Dewi Kunthi dan Dewi Madrim. Dari hasil “madu bersyariah” inilah, Prabu Pandu punya anak 5, yakni dari Kunthi terlahir Puntadewa, Bima (Werkudara) dan Harjuna. Dari istri Madrim, lahir Nakula dan Sadewa, sehingga ketika namanya dipakai Kak Seto sebagai nama yayasan anak kembar, putra Dewi Madrim ini tiap tahun dapat royalty.

“Mustinya kamu tambah bini berapa kek, namanya juga raja. Itu sah-sah saja,” kata Begawan Abiyasa beberapa minggu setelah jadi petapa di Candi Saptaharga.

“Sudahlah rama, dua istri cukup, perempuan dan wanita sama saja. Wong baru dua bini saja wajahku pucat pasi begini, apa lagi beristri banyak, bisa seperti kertas HVS nanti,” jawab Prabu Pandu.

Memang, sejak lahir Pandu berwajah pucat pasi seperti kurang darah. Itu karena pengaruh sang ibu, Dewi Ambika saat bermalam pertama dengan Abiyasa ketika masih muda. Maaf kata, waktu muda Abiyasa ini bertampang jelek, hidung mancung ke dalam, sementara giginya malah mancung keluar alias tonggos. Akibatnya setiap diajak hubungan intim oleh suaminya, Dewi Ambika ketakutan sampai pucat. Beruntung kemudian setelah jadi raja langsung ganti gigi system implant, jadi ketolonglah penampilan raja Astina ini.

Demikianlah, sejak menjadi begawan di Candi Saptaharga atau biasa disebut Wukir Retawu, Begawan Abiyasa mungkur kadonyan (tinggalkan duniawi). Dia focus mengelola pertapan dengan para cantriknya. Nonton TV juga tidak pernah, apa lagi ILC di TV One, karena isinya suka “ngomporin” publik dengan nara sumber itu-itu saja.

- Advertisement -