Beranikah Saudi Melawan Iran?

5.307 views
Tiga dari 48 pesawat tempur Typhoon Arab Saudi buatan konsorsium Eropa (Eurofighter). Ancaman kemanusiaan jika Arab Saudi yang merupakan negara dengan anggaran militer ke-3 terbesar di dunia berperang dengan Iran.
- Advertisement -

MUNGKINKAH Arab Saudi mengambil alih komando setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keengganannya untuk berperang langsung melawan Iran?

AS merespons serangan belasan drone ke kilang minyak terbesar Abqaiq dan Quraish, Arab Saudi (14/9) yang diduga dilakukan oleh Iran, kaki tangannya di Yaman atau di Irak, dengan mengirimkan pasukan untuk membantu pertahanan Arab Saudi, bukan menyerang Iran langsung.

Semula, serangan ke Iran menjadi salah satu opsi yang akan dilakukan AS selain meningkatkan embargo ekonomi atau melakukan perang proxy dengan menggunakan perpanjangan tangan sekutu-sekutunya seperti Arab Saudi atau Uni Emirat Arab (UEA).

Pihak yang bertanggungjawab atas serangan yang melumpuhkan kedua kilang berkapasitas pengolahan lima juta barel per hari atau separuh produksi minyak Saudi yang dikelola oleh perusahaan Aramco, AS itu belum bisa dilacak, kecuali hampir bisa dipastikan dilakukan oleh kelompok yang berafiliasi dengan Iran.

Selain langsung dari wilayah Iran, serangan ke kilang Abqaiq dan Kuraish yang memiliki deposit minyak 20 milyar barel itu bisa juga dilakukan oleh milisi Hashed al-Shaabi atau Hisbullah binaan Iran yang bermarkas di Irak atau milisi Houthi yang beroperasi di Yaman.

Pengamat menduga, tujuan serangan sekedar “unjuk gigi” dan mengingatkan AS dan “antek-anteknya” bahwa pertahanan mereka mudah ditembus. Iran juga berhasil menembak jatuh pesawat nirawak atau drone RQ-4 Global Hawk AS di Selat Hormus (20/6) lalu.

Pesannya, Iran dan konco-konconya mampu menyerang kepentingan AS, Arab Saudi dan lainnya tidak saja dari selatan seperti yang dilakukan Houthi di Yaman yang sudah mengirim 240-an rudal jelajah ke negeri serambi Islam itu, juga dari timur oleh Iran langsung atau dari utara oleh milisi Hisbullah dan Hasheed al-Shaabi yang beroperasi di Irak.

- Advertisement -