Wakaf dalam Ekosistem Ekonomi Syariah

369 views
- Advertisement -

JAKARTA (KBK) – Instrumen wakaf merupakan kunci kebengkitan ekonomi islam. Kini tiga lembaga dibawah koordinasi pemerintah seperti Badan Wakaf Indonesia (BWI), Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan telah mengeluarkan instrument wakaf bernama wakaf link sukuk dan sukuk link wakaf. Menurut Direktur Pembiayaan Syariah Kementrian Keuangan, Dwi Irianti Hadiningdyah wakaf link sukuk adalah aktivitas nazir untuk memobiliasi dana wakaf masyarakat kemudian digunakan untuk membeli produk keuangan negara dalam bentuk sukuk.

Sementara sukuk link wakaf adalah nazir mengeluarkan produk keuangan dalam sukuk lalu sukuk tersebut dibeli oleh masyarakat. Dwi berujar guna membangun habit masyarakat untuk membeli instrumen negara, kini kewajiban kewajiban atau syarat sukuk yang limitasi 250 miliar, jumlahnya oleh Kemenkeu kini diperkecil menjadi Rp 50 miliar agar lebih mudah tercapai.

Dalam instrument ini pembagian imbal hasil atau dana kupon dari wakaf link sukuk tidak dikenakan pajak dan karena imbal hasil tidak dikenakan pajak maka dikembalikan kepada nadzir yang terhimpun untuk digunakan dalam pembangunan projek sosial. Nilai wakaf sukuk bisa berapa saja tak ada nilai minimal.

“Selama itu nadzir akan mendapatkan 7-8 persen setiap tahunnya. Instrumen ini bisa menjadi sumber penghimpunan wakaf baru yang cukup signifikan dengan potensi yang cukup baik,” ujar Dwi di acara launching campaign Wake Up Wakaf Dompet Dhuafa di Jakarta (27/9).

Mahfud Nazhar dari Otoritas Jasa Keuangan mengatakan masih ada sejumlah instrument lain yang berkaitan dengan wakaf yang masih bisa dikembangkan seperti wakaf saham. Namun bagaimana pengelolaannya masih perlu digodok lebih dalam agar tak menyalahi kaidah-kaidah yang termaktub dalam makna wakaf, mengingat nilai saham yang naik turun.

“Aturan ini harus dibuat berdasarkan keterbukaan dan ini yang masih harus kita diskusikan,” Ujar Mahfud, narasumber lain di acara tersebut.

- Advertisement -