ABIYASA MUKSWA (III-Tamat)

478 views
Sanghyang Yamadipati siap bikin Begawan Abiyasa mati mukswa, tapi harus ada dana tambahan. Biaya tak terduga, katanya.
- Advertisement -

MENDADAK pagi itu Begawan Abiyasa ketamuan Raden Harjuna dikawal punakawan Gareng Petruk Bagong berikut Semar sebagai sesepuh dan penasihat Pendawa Lima. Seperti biasanya pula, tangannya tidaklah hampa, membawa teh gula kopi. Tapi kali ini wajah Harjuna bermuram durja, seperti tengah kehilangan sesuatu yang sangat berharga, yang takkan bisa dibeli di Bukalapak sekalipun.

“Maaf Eyang Begawan, Kangmas Prabu Kresna mendadak hilang. Padahal beliau kan bukan mahasiswa atau pelajar yang demo RUU Jitapsara.” Kata Harjuna menjawab pertanyaan Begawan Abiyasa.

“Tenang saja Harjuna. Berdasarkan pengamatan batin saya, dia bukannya hilang diculik Tim Kamboja, tapi ada misi khusus di pertapan Balekambang. Coba kamu cek ke sana, pasti ada dia.” Jawab Begawan Abiyasa sangat solutif.

Memang, keluarga Pendawa dan Kurawa sedang mempermasalahkan RUU Jitapsara, yakni skenario PBJ tentang siapa saja yang menjadi senapatinya. Ada juga memang hal-hal janggal, yang mudah dibaca oleh kalangan awam, tapi ditemukan juga pasal ketidakadilan yang hanya diketahui oleh para pakar kemanusiaan.

RUU Jitapsara itu memang bikinan para dewa di kahyangan, tanpa melibatkan kawula ngercapada yang memiliki hak inisiatif. Penyusunan RUU jadi acak-acakan, karena skenario PBJ itu tanpa melibatkan Hanung Bramantyo atau Garin Nugroho. Misalnya, ada pasal yang menyebutkan: Antarejo melawan Baladewa, yang kalah hanya diisi titik-titik, sepertinya dewa masih ragu. Tapi di pasal lain disebutkan, tokoh usia 75 tahun ke atas tidak boleh masuk dalam PBJ. Tapi kenapa Resi Bisma dilawankan dengan Resi Seto dengan kematian Seto, padahal keduanya sudah sama-sama jompo.

“Kalau mengikuti pasal itu, mustinya aku juga dimasukkan dong! Tapi saya sebagai Begawan yang tahu diri, takkan intervensi keputusan dewa. Biarkan saja, karena itu memang hak prerogative Jonggring Salaka.”

- Advertisement -