Irak: Gejolak Politik Tanpa Henti

583 views
Irak dilanda gelombang unjukrasa di Baghdad dan 10 kota provinsi lainnya akibat himpitan ekonomi dan meningkatnya pengangguran serta korupsi di kalangan birokrasi. 93 orang tewas dan 4.000 lka-luka sejak Selasa (1/10) lalu.
- Advertisement -

IRAK pasca invasi mendadak ke Kuwait 2 Agustus 1990, lalu berujung serbuan pasukan koalisi dipimpin Amerika Serikat ke negara itu dalam Perang Teluk I medio Januari 1991, sampai kini terus dirundung konflik.

AS dan koalisinya kembali menyerang Irak pada 21 Maret 2003 dalam upaya menjatuhkan rezim Saddam Husein serta mencari senjata pemusnah masal yang katanya diproduksi Irak, namun tidak ditemukan.

Sejak itu, darah terus tumpah di negeri yang memberlakukan sistem pembagian kekuasaan berdasarkan mazhab agama yakni syiah dengan pengikut terbesar dan kaum sunni, juga minoritas etnis Kurdi.

Gelombang aksi masa muncul tiba-tiba di Baghdad dan merambah 10 provinsi di Irak sejak pekan lalu (1/10) dan sejauh ini sudah menelan 93 korban jiwa dan 4.000 luka-luka, dipicu oleh himpitan kesulitan ekonomi dan tingginya angka pengangguran.

Namun pengamat politik menyebutkan, gejolak politik di Irak kali ini tidak lepas dari rangkaian gelombang demokratisasi Musim Semi Arab babak kedua yang pecah di sejumlah negara di kawasan itu.

Presiden Aljazair Adelaziz Bouteflika dan Presiden Sudan Omar Hasan al-Bashir berhasil ditumbangkan masing-masing pada 2 April dan 11 April lalu.

Sebelumnya, musim semi pertama yang melanda jazirah Arab pada 2011 ditandai tumbangnya rezim diktator Libya (Moammar Kadafi), Mesir, Tunisia dan Yaman serta membawa Suriah dalam konflik berdarah hingga kini.

Sistem parlementer di Irak pasca Saddam Husein memang rentan konflik antara Perdana Menteri yang selalu berasal dari kubu Syiah, sedangkan presiden sebagai jabatan simbolis dari kelompok Sunni.

Syiah dengan 16 juta pengikutnya merupakan kelompok mayoritas di Irak yang berpenduduk 37 juta jiwa, sedangkan Sunni diperkirakan dianut sekitar 10 juta penduduk, selebihnya etnis Kurdi (lima juta) dan suku-suku minoritas Turkmenistan, Armenia dan Yazidi.

- Advertisement -