Kemarau Panjang, Waspadai Stok Beras!

234 views
Pemerintah dan pelaku usaha harus menghitung cermat stok beras akibat turunnya produksi di musim kering panjang 2019.
- Advertisement -

PRODUKSI beras nasional Januari – September 2019, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), anjlok menjadi 26,9 juta ton dan 8,99 juta Ha luas panen dibandingkan 28,5 juta ton dari 9,53 juta Ha luas panen 2018.

Penyebabnya, musim tanam pertama (rendeng) dan kedua (gadu) mundur karena ketersediaan air di tengah kemarau panjang sehingga produktivitas lahan turun dan sebagian tanaman mengalami puso.

Dampak kekeringan dikhawatirkan masih berlangsung bersamaan mundurya musim hujan tahun ini yang berdasarkan catatan BMKG terjadi di 253 atau 74 persen zona musim di Indonesia dibandingkan rata-rata 30 tahun (1981 – 2010).

Sedangkan 342 zona musim (20,2 persen) masuk musim hujan pada Oktober 2019, 161 zona musim( 47,1 persen) November dan 79 zona musim (23,1 persen) Desember, selebihnya antara Januari – Maret 2020.

BPS juga mencatat, penurunan produksi diikuti naiknya harga gabah di tingkat petani terhadap 1.847 transaksi di 28 provinsi yang pada September mencapai Rp4.905 per Kg (Gabah Kering Giling –GKP) atau naik 12,6 persen dibandingkan Mei lalu.

Sementara harga beras kualitas medium di tingkat penggilingan, naik dari Rp9.143 menjadi Rp9.301. per Kg.

Dari sentra-sentra produksi beras di tiga provinsi di Pulau Jawa dan Sulawesi Selatan dilaporkan, akibat kemarau panjang tahun ini, terjadi penurunan luas panen dan penurunan produksi beras.

Sementara Deptan dalam laporannya menyebutkan, kekeringan selama Jnuaria hingga awal Oktober 2019 dialami sekitar 265-ribu Ha lahan sawah, 70.200 Ha diantaranya puso, lebih tinggi dari tahun lalu, yakni 180.880 Ha, 38.445 Ha puso.

Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia Bayu Krisnamurti mengingatkan, dampak kekeringan pada produksi pangan merupakan persoalan yang tidak bisa disepelekan.

- Advertisement -