ANTIWATI EDAN

465 views
Patih Udawa ngomeli Dewi Antiwati habis-habisan, tapi tetap saja ngeyel, meski akhirnya nangis penuh penyesalan.
- Advertisement -

DALAM dunia pakeliran, sosok Dewi Antiwati memang tokoh kurang dikenal. Dia adalah istri Udawa, patih negeri Dwarawati. Bapaknya adalah Patih Sengkuni, politisi culas dari negeri Ngastina, sedangkan ibunya ….inilah yang masih gelap. Sebab pakeliran gaya Surakarta, Yogyakarta maupun Banyumas tak pernah menyebutnya. Ketimbang pusing, sebut saja nama istri patih Ngastina itu adalah: ….. Nyonya Sengkuni.

Dari perkawinan mereka, lahir tiga anak masing-masing Antisura, Antiwati, Surabasah. Kenapa si sulung diberi nama sama dengan gajah kehormatan negeri Ngastina? Karena Patih Sengkuni ingin anak sulungnya itu tetap eksis siapa pun penguasa di negeri Ngastina. Asal tahu saja, gajah Antisura kendaraan raja telah ada sejak Ngastina dipimpin Prabu Palasara.

“Kenapa pula keluarga Patih Sengkuni memberi nama anak demen pakai kata “anti” ya?” kata wayang akar rumput pada temannya.

“Karena keluarga patih Sengkuni ini setiap bepergian selalu bawa tablet Antimo, untuk mencegah mabuk udara, darat, laut dan kepolisian.” Jawab si teman seenaknya.

Antiwati memang dikenal akan kecantikannya, sehingga dulu sempat pula diperebutkan oleh Sarjokesuma, putra Prabu Duryudana. Sebenarnya Patih Sengkuni setuja-setuju saja, sebab jika dia berhasil besanan dengan Prabu Duryudana, akan makin meningkat nama dan rejekinya. Sayang, Antiwati lebih memilih Patih Udawa yang kalah ngetop dengan Sarjokesuma, karena prinsip Udawa memang hanya satu: kerja, kerja, dan kerja!

“Aku tak mau punya suami lholhak-lholhok (kekanak-kanakan), selalu bergantung pada orangtua. Mending Patih Udawa, sudah jelas posisinya. Sedangkan Sarjokesuma, meski putra mahkota, tapi tak jelas kapan dilantik jadi raja. Apa lagi ada isyu santer, Ngastina mau pakai sistem republik, makin jauh dia jadi raja.” Begitu alasan Antiwati.

“Ya terserah kamu sajalah. Yang penting kamu sayang dan cinta pada suamimu, ketimbang nanti kamu kawin sama Sarjokesuma tapi masih punya PIL juga.” Jawab Patih Sengkuni yang rupanya mengacu asas tut wuri handayani.

- Advertisement -