ANTIWATI EDAN

498 views
- Advertisement -

            Isyu Ngastina berbentuk republik memang sedang mencuat di Ngastina, ini sama kerasnya dengan isyu negeri Ngamarta mau dijadikan negeri khilafah. Begawan Abiyasa yang pelihara jenggot dan ke mana-mana pakai jubah, dicurigai sebagai wayang radikal. Padahal jika dirunut ke belakang, para dewa di kahyangan rata-rata juga jenggotan dan pakai jubah, tapi tak pernah dicurigai oleh dalang dan pesindennya.

Di jagad pakeliran, jika ada resi moderat adalah Resi Seta dari pertapan Sukohini. Dia tak pelihara jenggot, juga tak berjubah sebagaimana Resi Bisma dan Begawan Durna yang disebut pula Resi Kumbayana. Karenanya Bisma dan Seta suka berseberangan dalam setiap menanggapi isyu politik.

“Perang Baratayuda sebuah keniscayaan, untuk  menguji kebatilan harus kalah melawan kebenaran,” kata Resi Bisma saat ditanya pers dari media online.

“Perang Baratayuda bisa dicegah bila dewa punya political will. Perang Baratayuda menghancurkan perekonomian dua negara, Pendawa dan Kurawa. Ketimbang APBN dikuras untuk perang, mendingan digunakan untuk membangun infrastruktur,” kata Resi Seta tak mau kalah.

Perang Baratayuda Jayabinangun (PBJ) ternyata sudah menjadi ketentuan dewa di kahyangan di mana derajat keabsahannya seperti TTS di majalah dan koran, lantaran keputusan dewan juri tak bisa diganggu-gugat. Cuma setelah jaman now seperti dewasa ini, ketika demokrasi dibuka seluas-luasanya, wayang ngercapada pun berani mengkritisi dan nyinyir pada penguasa kahyangan. Jangankan SBG (Sanghyang Betara Guru), Sangyang Wenang pun banyak yang mengolok-olok dan membully.

Skenario PBJ sudah dibuat rapi oleh para dewa di Jonggring Salaka, dalam buku Kitab Jitapsara. Panitia penyusunannya diketuai Betara Penyarikan, tanpa melibatkan sutradara handal Deddy Mizwar maupun Hanung Bramantyo. Sayang, apa isinya, itu menjadi rahasia kahyangan dan titah (makhluk) ngercapada dilarang mengetahui. Para wayang nantinya tinggal melaksanakan saja.

- Advertisement -