ANTIWATI EDAN

493 views
- Advertisement -

“Maaf Sinuwun, saya nggak ngerti Antiwati sampai segitunya. Dia memang sejak sering ikut pengajian kelompok wayang radikal, jadi berani sama aku, suka melawan. Maaf, sekali lagi maaf.” Ujar Patih Udawa sambil menyembah-nyembah.

Prabu Kresna sudah kadung marah luar biasa, tapi tak sampai jadi buta (raksasa) Brahala. Untuk pembelajaraan, Udawa langsung dicopot sementara sebagai patih Dwarawati, dan sebagai Plt-nya ditunjuk Haryo Setyaki. Sedangkan Dewi Antiwati sudah dilaporkan ke polisi, sebentar lagi pasti jadi tersangka pelanggaran UU ITE.

Dengan langkah gontai, eks Patih Udawa kembali ke kepatihan, mengomeli istrinya habis-habisan. Itu hasilnya suka ikut pengajian wayang radikal, menganggap pejabat negara sebagai togut. Udawa khawatir, istrinya nanti makin tercuci otaknya, sehingga mau ikut praktek “amaliyah”, bunuh diri dianggap sebagai jihad.

“Tahu nggak kamu? Gara-gara kamu nyinyir di medsos, saya diberhentikan sebagai patih Dwarawati. Apa kamu nggak malu, jika nanti aku terpaksa jadi agen pulsa atau gas melon untuk nyambung hidup.”

“Maafkan kangmas, aku nggak mikir ke sana….” Kata Dewi Antiwati sambil nangis. Dia menyadari sekarang, bahwa dirinya cantik, tapi gobloknya nggak ketulungan.

Resi Seta sudah mulai sehat kembali, sudah bisa beraktifitas di pertapan Sukohini. Sedangkan penusuknya yang bernama Tumenggung Mantrakendho, memang  sedang menjalankan misi “amaliah” untuk masuk suwarga tunda sanga sistim kilat. Yang paling mengejutkan, dia mengaku sebagai suruhan Patih Sengkuni. Sebab berdasarkan bocoran Wikileaks, dalam skenarip Kitab Jitapsara dituliskan: Sengkuni lawan Resi Seta, yang mati Sengkuni. Untuk menggagalkan skenario itu, Patih Sengkuni sengaja nyuruh wayang lain untuk membunuh Seta.

Adapun Dewi Antiwati, gara-gara Udawa jadi penganggur mendadak, kemudian dibayang-bayangi bakal ditangkap polisi, jadi stress. Tambah-tambah sang ayah, Patih Sengkuni juga ditahan Polda Metro Jaya, kini dia menjadi gila dadakan. Kelayapan ke mana-mana sambil nyanyi, “Awan-awan mlaku ngulon, tiwas edan ora klakon!”. Kasihan memang, dulu ada lakon “Srikandi edan”, kini “Antiwati edan”. (Ki Guna Watoncarita)

- Advertisement -