DKI Jakarta Inflasi Parah

483 views
Jalur sepeda untuk warga kota. Dengan panjang 49 Km se DKI, dianggarkan Rp 73 miliar.
- Advertisement -

DI negara Zimbabwe bilangan Afrika Selatan sana, ongkos naik angkutan umum mencapai 100 triliun jauh dekat dan sekali jalan. Di Pemprov DKI, harga satuan balpoin sebuah bisa sampai Rp 105.000,-  sehingga dalam partai besar ditemukan angka Rp82 miliar sementara balpoin Rp 635 miliar. Pertanyaannya, apakah Pemprov DKI Jakarta itu provinsi di wilayah negara Zimbabwe, sehingga ikut terlibas inflasi demikian parah?

Anak SD pun tahu bahwa DKI Jakarta memang di Indonesia, bukan di negeri gurun pasir Afrika, meski di sini juga banyak “kadal gurun”-nya. Kita sampai berasosiasi demikian jauhnya, karena menemukan angka nominal fantastis pada RAPBD DKI Jakarta tahun 2020. Sepertinya uang kita tak ada nilainya, sehingga semuanya serba miliar. Sekedar contoh, untuk belanja program anti virus sampai Rp 12,9 miliar, sementara honor 5 petugas influenzer pariwisata dianggarkan sampai Rp 5 miliar. Baru membaca angka-angka itu saja, langsung bisa terkena influenza karenanya.

Dari waktu ke waktu APBD DKI Jakarta memang tertinggi dari seluruh provinsi di Indonesia. Maklum, Jakarta hingga hari ini masih bertatus ibukota negara, semua infrastruktur negara berada di Jakarta. Tapi 5 tahun ke depan, ketika ibukota RI sudah pindah ke Penajam Kaltim, apakah APBD-nya juga masih meraksasa.

Tahun 2020 mendatang misalnya, dianggarkan APBD-nya sebesar hampir Rp 96 triliun. Padahal ABBD 2019 yang “hanya” Rp 80,9 triliun terancam defisit sampai Rp 12,24 triliun triliun. Inilah hebatnya DKI Jakarta dan Indonesia pada umumnya. Jika menyusun anggaran belanya dan pendapatan, bukan berdasarkan dana yang sudah siap, tapi dana yang masih diawang-awang dimasukkan juga. Ini kan seperti melihat merpati yang masih terbang di langit diklaim sudah milik kita.

- Advertisement -