SUKMA NGLEMBARA

543 views
- Advertisement -

“Tolong kanda, Dewi Trijatha juga diberi posisi. Dia kan berjasa menjagaku selama di Taman Argasoka.” Usul sang istri, Dewi Sinta.

“Kamu kan istriku, kenapa mau intervensi pengangkatan menteri? Apa kamu siap diolok-olok rakyat sebagai Bu Sien Wijaya?”

Akhirnya Dewi Trijatha diberi posisi menteri Peranan Wanita dan Pembina PKK. Tugas dia sangat strategis sekaligus sensitive. Sebab untuk menghindari radikalisme dan khilafahisme yang mulai merebak di Pancawati, perempuan di Pancawati dilarang pakai cadar. Prabu Rama memang tak mau, muka perempuan tak ada bedanya dengan jendela rumah, pakai korden segala.

“Saya tak mau ada lelaki nyamar wanita, di balik baju gamisnya menyimpan bom. Kan celaka kita,” begitu alasan Prabu Rama.

“Tapi sebaiknya tanya ulama dulu Sinuwun, ketimbang nanti jadi polemik. Kalau didemo PA 212 bagaimana?” saran Patih Sugriwa.

Demikianlah, pemerintahan baru di Pancawati mulai berjalan. Karena para pembantu Prabu Rama tak ada yang rangkap jabatan, semua berjalan lancar. Tak ada yang mark up anggaran, bikin influenzer pariwisata honornya yang pantas-pantas saja, tak sampai Rp 5 miliar. PNS di Pancawati juga tak ada lagi yang pakai cadar dan bercelana cingkrang. Semua tundak pada aturan negara, tak ada yang kontra revolusi.

Sampai bulan 6 kemudian terjadilah peristiwa yang menggegerkan Istana Pancawati. Dikabarkan ibu negara Bu Sien Wijaya menderita stress berat. Setiap hari teriak histeris, karena merasa dikejar-kejar Sukma Nglembara penjelmaan Dasamuka yang telah menjadi arwah. Sebetulnya Prabu Rama hendak merahasiakan ini, tapi dunia medsos sudah kadung memviralkan. Bayangkan, video ibu negara stress kok bisa sampai masuk Youtube. Bagaimana kementrian Kominfo menangkalnya?

“Sinta, kamu harus ikut saya di Suwarga Bandang. Hidup nyaman semuanya tercukupi, kamu tinggal mamah karo mlumah. Yah, ha ha ha….” kata Sukma Nglembara sambil tertawa terbahak-bahak. Suaranya nyaring bergema, karena pakai EH0.

- Advertisement -