Naik Kelas Kok Maksa

535 views
Seorang pemberi didik SMP di Klaten (Jateng) diadili karena menempeleng peserta didik.
- Advertisement -

ORANGTUA cap apapun pasti bangga dengan prestasi putra-putrinya, dan merasa malu jika anak-anaknya mengalami kegagalan. Tapi karena saking pinter-pinternya orang Indonesia sekarang, dan mampu bayar pengacara pula, ketika anaknya tak naik kelas gugat ke sekolah Rp 500 juta. Padahal si anak yang telah diperjuangkan mati-matian tersebut telah pindah dari SMA swasta tempatnya  bersekolah. Jadi apa sesungguhnya yang menjadi target, kehormatan atau besarnya ganti rugi jika dikabulkan pengadilan?

Banyak orangtua yang selalu membangga-banggakan anak-anaknya. Setiap ketemu teman lama, meski tanpa ditanyakan terlebih dulu, sudah cerita bla bla bla…. bahwa si Polan telah jadi dokter, lalu adiknya si Poltak baru lulus Akademi Angkatan Laut Surabaya. Si teman hanya mendengarkan saja, sampai kemudian ditanya, anakmu jadi apa sekarang? “Ah, anakku sih hanya jadi sopir, Mas.” Bapak tukang pamer itu kaget, lalu kata si teman lama, “Tapi sopir pesawat Jakarta – London.”

Hal-hal semacam itu sering terjadi, karena sepertinya itu sudah menjadi naluri orangtua. Maka sebaliknya ketika si anak gagal dalam pendidikan, tidak lulus atau tinggal kelas, akan memendam rasa kecewa. Tapi kebanyakan orang, akan menerima saja dengan asumsi memang anak kita yang bego. Jika tak mau larut dalam kekecewaan, harus diingat-ingat pesan motivator, “Kegagalan adalah sekedar sukses yang tertunda.”

Tapi di era gombalisasi ini, ketika para orangtua peserta didik sudah pinter-pinter, anak tidak lulus atau tak naik kelas, suka menyalahkan guru dan sekolahnya. Paling konyol, ada lho yang menggugat ke pengadilan gara-gara anaknya tidak naik kelas. Tak hanya menuntut anaknya bisa naik kelas, tapi juga minta sejumlah ganti rugi immaterial yang jumlahnya berjut-jut.

- Advertisement -