Bersepeda di Ibukota, Nyaman kah?

453 views
Anggaran fantastis Rp73 milyar pembangunan jalur sepeda di DKI Jakarta. Aman dan nyamankah bersepeda di ibukota?
- Advertisement -

SEPEDA yang sampai saat ini masih banyak digunakan di negara-negara maju karena dianggap ramah lingkungan dan menyehatkan, justeru terpinggirkan di bumi Nusantara saat ini.

Yogyakarta yang dijuluki kota pelajar misalnya, dulu juga dikenal sebagai kota sepeda karena alat transportasi yang dikayuh itu banyak digunakan oleh warga termasuk para siswa sampai mahasiswa.

Di era now, hanya mbok-mbok bakul sayur atau petani di pinggiran saja yang masih mau “numpak pit” (naik sepeda atau fiets dari bahasa Belanda) , sedangkan para ABG atau kaum milenial “emoh” menaikinya karena takut tampak miskin atau dianggap nggak gaul.

Sepeda diperkenalkan oleh Belanda yang menjajah negeri ini sekitar 350 tahun, sedangkan konon pada awalnya ditemukan di Perancis pada awal abad ke 18 yang disebut velopede atau kendaraan yang berjalan cepat dengan dikayuh.

Versi sejarah menyebutkan, sepeda diciptakan oleh seorang pengawas hutan Jerman, Baron Karls Drais von Sauerbron pada 1818 dan dikembangkan oleh pandai besi Skotlandia, Kirpatrick Mc Millan pada 1839.

Di era kolonial Belanda pra kemerdekaan RI pada 1945, hanya segelintir warga atau kaum elite lokal yang memiliki sepeda seperti amtenar ( pegawai di instansi atau perusahaan Belanda), para priyayi (bangsawan) atau kaum terpandang.

Sejumlah merk sepeda yang hadir di Indonesia saat itu hampir semua buatan Belanda seperti Raleigh, Phoenix, Fongers atau Gazelle.

Jadi jika kini Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ingin menghidupkan kembali penggunaan sepeda sebagai salah satu alternatif alat angkut ibukota yang sering didera kemacetan, agaknya OK-OK saja.

Namun demikian, tentu banyak hal yang perlu ditata jika masyarakat ibukota didorong naik sepeda, khususnya faktor keselematan para pengendara dari kecelakaan akibat ulah saling serobot, sradak-sruduk moda angkutan lain yang lebih cepat.

- Advertisement -