Irak: Dilema Penguasa Lawan Pendemo

429 views
Irak dilanda gelombang unuk rasa masa sejak Oktober lalu, bermula dari himpitan ekonomi rakyat, bergeser ke tuntutan melengserkan pemerintah
- Advertisement -

PENGUASA Irak pimpinan PM Adel Abdul Mahdi (77) bagaikan menghadapi buah si malakama menghadapi gelombang aksi massa di berbagai kota yang menelan banyak korban jiwa, bermula dari tuntutan perbaikan kondisi ekonomi.

Jika dibiarkan, eskalasi unjuk rasa yang berawal dari tuntutan publik akibat himpitan ekonomi dan tingginya angka pengangguran (25 persen), bakal terus meningkat dan isunya bergeser kemana-mana bahkan sampai untuk melengserkan pemerintah.

Untuk itu, penguasa menghadapi aksi demo dengan tangan besi sehingga berakibat tewasnya 260 orang di berbagai lokasi, sehingga dampaknya, muncul protes tidak saja dari dalam negeri, tetapi juga dari Amnesty International.

Sistem politik Irak berupa bagi-bagi kekuasaan antarmazhab agama yakni mayoritas Shiah dan Sunni dan dengan minoritas suku Kurdi pasca tumbangnya rezim Saddam Husein pada 2003 dituding sebagai salah satu pemicu konflik.

Jabatan PM jatah kubu Syiah dengan 16 juta pengikut atau mayoritas dari seluruhnya 37 juta penduduk Irak, sedangkan presiden sebagai jabatan simbolis adalah jatah kubu Sunni (10 juta orang), selebihnya etnis Kurdi (lima juta) , minoritas Turkmenistan, Armenia dan Yazidi.

Abdul Mahdi sendiri meraih kekuasaan lewat aliansi dengan kubu ulama populis Syiah pimpinan Muqtada al-Sadr dan milisi Hashsha-Shaabi dukungan Iran pimpinan Hadi al-Amiri.

Keterlibatan Iran dengan menempatkan Panglima Operasi Luar Negeri Garda Revolusi Mayjen Qassem Soleimani yang ikut campur tangan dalam deal-deal antarfraksi di Irak juga sempat memunculkan aksi-aksi anti Iran di Irak.

Sedangkan janji PM Mahdi untuk melakukan reformasi ekonomi dan pergantian sejumlah menteri di kabinetnya sejauh ini belum mampu meredam aksi unjuk rasa, bahkan publik menuntut agar ia lengser.

Irak yang terus bergejolak sejak tumbangnya rezim Saddam Husein pada 2003 sempat menikmati situasi relatif tenang pasca takluknya NIIS pada 2017.

- Advertisement -