ANTASENA WISUDHA

70 views
Werkudara siap dengan gada Rujakpolo, untuk menghajar kepala Antasena.
- Advertisement -

NEGRI Amarta ternyata masih sangat tergantung pada minyak bumi sebagai PAN (Pendapatan Asli Negara). APBN-nya selama ini 50 persen ditopang oleh hasil ekspor minyak bumi produksi Sumur Jalapatra. Separonya lagi dari pemasukan pajak, yang jumlahnya selalu mengalami pasang surut. Padahal Prabu Puntadewa sebagai penguasa Amarta, dalam urusan pajak terkesan ngrekes (hina) sekali. Masak, pedagang bakso keliling dan es pung dipajaki juga. Bahkan penulis di media masa dan online saja juga dikenai cukai sampai 15 persen.

Dulu Amarta sempat menjadi anggota OPEC (organisasi minyak dunia). Tapi sejak Sumur Jalapatra dipimpin Tumenggung Ranu Sutowo, ekspor BBM ke manca negara makin menyusut dan akhirnya nol. Ada bau korupsi di situ, tapi Prabu Puntadewa wayangnya nggak tegaan, sehingga Tumenggung Ranu Sutowo tak sampai dipenjarakan. Hanya diberhentikan kemudian dijadikan Kepala Rumahtangga Istana Indraprasta sampai pensiun.

“Dimas Werkudara, mungkin punya calon yang cocok pimpin BUMN Jalapatra. Kita sudah berulangkali ganti Dirut, tapi tak ada yang pas juga. Jika tidak korupsi, salah urus….,” keluh Prabu Puntadewa.

“ Maaf, kangmas Puntadewa, aku tak punya pilihan. Tapi kalau boleh menyarankan, jangan ambil orang dari partai, bisa bahaya. Dia akan bawa sejumlah staf khusus untuk cari uang di kementrian.”

“Ketimbang repot, dilelang saja kenapa?” saran Prabu Kresna raja Dwarawati.

Demikianlah, Patih Tambakganggeng yang kalah ngetop dibanding jubir istana Mochtar Ngabalin, selesai sidang kerajaan terbatas di Indraprasta segera mengumumkan dibukanya lelang jabatan Dirut BUMN Sumur Jalapatra. Yang ngelamar ternyata ombyokan. Persyaratannya tak hanya berpengalaman dalam bidang perminyakan, tapi juga pakai SKCK ditambah Surat Keterangan Bebas Paham Radikal.

Tapi setelah diseleksi, peserta tinggal 10 saja, karena tak memiliki kompetensi. Katanya berpengalaman bidang perminyakan, ternyata hanyalah tukang minyak keliling …..nyak minyaaaak! Dan paling banyak, mereka rata-rata tergiur oleh gajinya yang Rp 3 miliar sebulan. Padahal Prabu Puntadewa sendiri sebulan hanya terima Rp 100 juta, itupun jajaran genjang –tidak bulat– karena dipotong Pph 15 persen.

- Advertisement -