Mencegah Stunting

548 views
Penyuluhan gizi di Posyandu Sedayu, Bantul (DIY).
- Advertisement -

ANGKA balita stunting atau kunting (kerdil) di Indonesia masih tinggi, tahun 2018 tercatat 8,8 juta. Untuk pemenuhan gizi balita, KSP Moeldoko menganjurkan setiap rumah pelihara ayam, sehingga punya telur sendiri. Beda lagi dengan Menko PMK Muhadjir Effendi, untuk mencegah generasi stunting cukup dengan sertifikasi pranikah bagi para calon pengantin (CP). Apa hubungannya?

Dalam berbagai kesempatan Presiden Jokowi sering mengingatkan, kesehatan bumil (ibu hamil) harus dijaga termasuk pemenuhan gizinya. Hanya dengan  cara ini lahirnya anak-anak kerdil bisa dihindari. Tahun 2045 bakal terjadi bonus demografi alias peledakan penduduk, sehingga jumlah penduduk RI nantinya diprediksi mencapai 321 juta jiwa. Bayangkan, jika 1 persen saja menjadi penderita stunting, 3,2 juta jiwa bukan jumlah sedikit. Jika mereka kumpul menjadi 1, Indonesia menjadi seperti bangsa Liliput.

Di masa balita, terutama masa pertumbuhan 1.000 hari (sampai 3 tahun), gizi bayi dan ibunya harus terjamin. Jaman Belanda, disususul jaman Jepang sampai awal-awal kemerdekaan, orangtua jarang memperhatikan itu. Makan daging hanya ketika ada tetangga slametan atau punya hajat. Makan telur sebutir jarang sekali, biasanya dibagi empat atau bahkan delapan. Itu karena kemiskinan masih membelit anak negeri.

Tapi balita kekurangan gizi tak selalu karena kemiskinan harta, tapi juga karena miskinnya pemahaman orangtua tentang kesehatan. Meski uang ada, makan di rumah tak pernah mementingkan menu “empat sehat lima sempurna”. Bahkan saking pelitnya, dia bilang, “Makan enak kan hanya ketika di lidah, setelah ditelan besok jadi tinja juga.”

Setelah Orde Baru berkuasa, ekonomi anak negeri mulai menggeliat, sehingga murah sandang pangan. Anak kampung kini tak lagi tertarik buah-buahan jatuh, atau kue-kue sisa jamuan tamu. Makan telur ayam dan bebek juga bisa satu butir sendiri atau lebih.

- Advertisement -