ABIMANYU KAREM (I)

48 views
Kala Bendana menegur Abimanyu, jangan pacaran melulu, ingat bini di rumah.
- Advertisement -

SEKOTHAK wayang di jagad pakeliran, mungkin yang paling jujur hanyalah Kala Bendana, putra bungsu Prabu Arimba dari negeri Pringgodani. Saking jujurnya dia, Kala Bendana hanya tahan bekerja di Kantor Pajak, sebab sehari-hari selalu ada godaan dari para WP (Wajib Pajak) yang minta keringanan pajak. Dia rela membayar puluhan juta pada Kala Bendana, asalkan tagihan pajak bisa dikurangi, tinggal 75 persen dari yang seharusnya.

Tak tahan dengan cara demikian akhirnya Kala Bendana pilih mengundurkan diri. Resikonya, teman-teman yang berani “nggayus” kaya dan punya mobil bagus, Kala Bendana tetap hidup miskin jika tak mau disebut kere. Mobil tak punya, rumah kecil di gang, dan  kendaraan satu-satunya hanya sepeda motor Honda 1969 yang selalu berbunyi nguk-enguk.

“Jadi wayang jangan terlalu idealis, bisa mati kaliren (kelaparan) sampeyan.” Sindir punakawan Togog.

“Ah biar saja. Sak beja-bejane sing lali, isih begja sing eling lan waspada.” Kata Kala Bendana mengutip pesan pujangga Jawa, R. Ngabehi Ranggawarsita.

Pringgodani memang negeri sarat korupsi, kecemburuan sosial terjadi di mana-mana akibat perbedaaan si kaya dan si miskin mencolok sekali. Tapi semenjak Brajadenta kakak Kala Bendana tewas karena memberontak pada Gatutkaca raja Pringgodani sekarang, kondisi negara mulai tenang. Manipulasi dan korupsi menurun, tapi belum hilang sama sekali. Karena kejujurannya tersebut, oleh Gatutkaca Kala Bendana hendak dipromsikan, diangkat jadi Ketua BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) Pringgodani. Ternyata menolak! Selain takut  dianggap KKN, dia kerepotan mengisi LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara). Apa motor Honda 69 pantas dilaporakan, karena ya hanya itu asetnya. Itupun hasil hibah dari mertuanya dulu. Ini hibah asli bukan rekayasa.

“Kalau begitu paman Kalabendana saya jadikan staf khusus, dengan tugas pada seksi Penghubung Persiapan Perang Baratayuda saja, ya?” ujar Gatutkaca yang merasa kerepotan untuk memuliakan pepundhen (sesepuh)-nya.

- Advertisement -