AS: Pemakzulan Trump Tak Terhindarkan?

156 views
Komisi Intelijen DPR Amerika Serikat telah menemukan bukti-bukti kuat bagi proses pemakzulan Presiden Donald Trump. Jika diamini Senat, akan dilakukan voting di sidang paripurna DPR yang akan menentukan nasibnya. Dilengserkan atau tidak.
- Advertisement -

ANCAMAN DPR Amerika Serikat agaknya tidak main-main dan kini sudah mulai memasuki tahap pembahasan untuk menyusun naskah pemakzulan terhadap Presiden Donald Trump.

DPR menganggap bukti dugaan pelanggaran yang dilakukan Presiden Trump berdasarkan hasil risalah investigasi Komisi Intelijen yang bersidang, Selasa lalu (10/12) sudah cukup kuat untuk melanjutkan proses pemakzulan.

Tahap selanjutnya, Komisi Yudisial, Kamis ini (5/12) menggelar dengar pendapat (hearing) untuk meminta masukan dari para pakar hukum, dan jika mereka menganggap pemakzulan dimungkinkan, naskahnya lalu akan dibawa ke Senat (di sini DPD-red).

Persoalan berawal dari permintaan Trump pada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Juni 2019 untuk menyelidiki calon pesaingnya pada pilpres 2020 Joe Bidan dan putranya, Hunter Biden saat bergiat dalam industri gas di negeri itu.

Risalah yang dibuat oleh Komisi Intelijen tidak menyimpulkan apakah Trump melakukan pelanggaran atau tidak, karena hal itu akan diputuskan berdasarkan voting pada sidang paripurna DPR.

Trump masih bisa terus berada di posnya di Gedung Putih saat proses pengadilan di Senat berlangsung dan baru bisa dilengserkan setelah dua pertiga anggota Senat yang dikuasai kubu partai pengusungnya (Republik) menyatakan ia bersalah.

Ketua Komisi Intelijen DPR AS Adam Schiff dalam pernyataannya menyebutkan, cukup banyak bukti tentang penyalahgunaan kekuasaan dan penghianatan kepercayaan rakyat oleh Trump yang juga dinilai membahayakan keamanan negara.

Bukti dugaan pelanggaran yang dilakukan Trump selain isi pembicaraan telpon dengan Presiden Ukraina, upayanya merintangi penyelidikan oleh DPR serta ancaman yang dilontarkannya terhadap warga yang ingin memberikan kesaksian.

Trump sendiri menyatakan dirinya tidak bersalah dan menuding kubu Demokrat memanfaatkan proses pemakzulan guna menganulir hasil Pemilu 2016 lalu.

- Advertisement -