Nikmatnya Bancakan Uang Rakyat

83 views
Tugas berat Mendagri Tito Karnavian untuk membasmi mafia anggaran, baik oknum-oknum politisi mau pun birokrat di daerah yang sudah berjalan langgeng bertahun-tahun.
- Advertisement -

DI ERA digital dan serba “computerized” pada zaman now ini, penyimpangan anggaran satu rupiah pun mestinya bisa dicegah atau ditelusuri, tapi nyatanya, praktek korupsi atau bancakan uang rakyat oleh eksekutif dan legislatif semakin menjadi-jadi.

Contoh teranyar, bagaimana demi mendapatkan kucuran Dana Desa yang nilainya antara Rp700 juta hingga Rp 1 milyar per tahun, bupati Konawe, Sulawesi Tenggara bekerjasama Ketua DPRD membentuk desa-desa fiktif dengan menerjang dan memanipulasi berbagai aturan.

Menurut penuturan Kabag Pemkab Konawe, Jumrin Pagala (Kompas, 5/12), pembentukan desa-desa baru dirancang di peternakan milik Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa di Desa Amonggedo Baru, Kec. Amonggedo, November lalu.

Ketua DPRD Konawe, Gusti Topan Sabara dan seorang anggota DPRD lainnya, Ardin ikut mengarahkan agar Perda yang akan diterbitkan memenuhi persyaratan pembentukan desa baru dengan merekayasa nama desanya dan jumlah penduduk.

Kasus “desa hantu” atau fiktif seperti yang diistilahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani, bisa jadi akan menguak permainan serupa di provinsi lainnya dan diharapkan menjadi pintu masuk aparat hukum untuk mengusutnya.

Di Provinsi DKI Jakarta lain lagi. Heboh pengajuan anggaran ibukota 2020 menjadi viral di media setelah dibeberkan ke publik oleh anggota baru DPRD dari F-PSI William Aditya (23).

Bayangkan saja, yang baru ketahuan, a.l. rencana pembelian lem Aibon senilai Rp82,8 milyar, bolpoin Rp 124 milyar, pasir Rp52 milyar, pengecetan jalur sepeda Rp74 milyar, pembentukan influencer media Rp5 milyar dan biaya konsultan penataan kampung Rp566 juta per RW. (baru biaya konsultan, belum proyeknya, padahal di Jakarta ada sekitar 200 RW).

Malah Dituduh Cari Panggung
Yang membuat publik geram, Gubernur Anies Baswedan alih-alih berterima kasih atas temuan itu, malah menuding pelapor (William) sedang mencari panggung atau popularitas.

- Advertisement -