ABIMANYU KAREM (II)

85 views
Gatutkaca jengkel pada pada paman sendiri. Disuruh diem ngoceh terus, sehingga akhirnya.....
- Advertisement -

TETAPI Kala Bendana mungkin kebanyakan micin, jadi tak paham akan bahasa isyarat Gatutkaca. Dia terus saja ngomeli kesatria Tanjung Anom itu. Padalah Abimanyu ibaratnya main catur, sudah mati langkah. Dia benar-benar ditelanjangi oleh Kala Bendana. Sudah kadung mengaku bujangan tulen, eh……Kala Bendana malah mengatakan hal sebaliknya. Status dirinya yang sebenarnya sudah menikah, justru dibuka telak di depan Dewi Utari. 

“Kulup Abimanyu, pulang sana buruan. Siti Sendari istrimu ngambek, saya diperintahkan menyusul kami.” kata Kala Bendana lancar sekali, padahal Abimanyu berulangkali mengucap ssstt ssstt….seperti rem biskota.

“Paman Kala Bendana, cari makan dulu yuk. Kan belum makan siang. Gudeg Yu Siyem di pojok sana itu enak, lho. Mari kita ke sana,” ujar Gatutkaca kemudian menengahi, sambil menarik paksa Kala Bendana diajak keluar.

Sebetulnya Kala Bendana tidak mau, tapi terus dipaksa keluar dan diseret hingga tiba di belakang gedung BP-7. Di sini Kala Bendana diomeli habis-habisan, dikata-katai sebagai orang tua tidak bijak alias sepuh sepah. Orangtua yang tak memahami selera anak muda jaman milenial dan start up.

“Jaman start up atau kue tart, kejujuran harus jadi panglima, Gatutkaca. Aku tidak suka anak muda yang jago bohong. Apa kata dunia?” kata Kala Bendana terus meletup-letup.

“Betul paman Kala Bendana, tapi demi kepentingan nasional, bolehlah bohong sedikit-sedikit,” kata Gatutkaca lagi.

“Ini bukan kepentingan nasonal, tapi ini kepentingan alat vital.” Jawab Kala Bendana semakin kesal dan semakin kasar.

Kala Bendana kemudian hendak balik ke gedung BP-7 lagi, untuk kembali menemui Abimanyu. Tapi langsung ditangkap oleh Gatutkaca, kali ini dengan kasar. Ternyata Kala Bendana malah teriak-teriak, menstigma Gatutkaca telah membungkam kebenaran. Habis sudah kesabaran ksatria Pringgodani tersebut. Lupa bahwa Kala Bendana adalah paman sendiri, untuk membungkamnya segera saja ditangkap kepalanya, lalu diuntir (diputar) seperti buah kelapa. Thelll……langsung terputuslah kepala itu dari badannya.

- Advertisement -