Asa Damai Rusia – Ukraina di Paris

29 views
Pertemuan Paris, Senin (9/12) lalu membahas upaya penghentian konflik di Semenanjung Krimea dan Ukraina timur antara Rusia dan Ukraina. Dari kiri Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
- Advertisement -

PALING tidak, pertemuan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Paris, Senin (9/12) yang ditengahi Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel membuka asa upaya penyeleaian konflik.

Ini adalah pertama kalinya pemimpin Rusia dan Ukraina – dua negara bekas Uni Soviet – bertemu sejak konflik wilayah Semenanjung Krimea dan Ukraina Timur sejak April 2014 yang menelan 14-ribu nyawa, terutama penduduk di kedua wilayah sengketa itu.

Perseteruan bermula saat Presiden Ukraina yang pro-Rusia Viktor Yanukovych menolak menandatangani perjanjian dagang dengan Uni Eropa (UE) pada Nov. 2013 karena ia cenderung ingin tetap merapat ke Rusia yang memasok sebagian besar kebutuhan energi negaranya.

Sebaliknya, mayoritas rakyat Ukraina menghendaki agar negaranya melepaskan diri dari bayang-bayang belenggu Uni Soviet yang berlangsung sampai akhir Perang Dingin lalu, dan lebih tertarik bergabung dengan negara-negara Barat dalam wadah UE.

Di tengah kisruh politik di negerinya, Yanukovych kabur ke Rusia, sementara mesin perang raksasa negara beruang merah itu ikut campurtangan dalam referendum pemisahan diri Ukraina oleh kelompok separatis di wilayah Donetsk dan Lugansk.

Di tengah gerakan separatis di wilayah Donetsk dan Lugansk, Ukraina timur yang rakyatnya berbahasa Rusia, Kremlin menginvasi Krimea yang secara de jure juga masuk wilayah Ukraina, lalu menggelar referendum yang menempatkan wilayah itu menjadi bagian Federasi Rusia.

Ganjalan upaya damai masih sulit diterabas terutama karena persoalan waktu pengaturan penguasaan perbatasan dan penyelenggaraan pemilu lokal.

Kubu Zelensky menghendaki, wilayah perbatasan (yang dikuasai kubu pro-Rusia-red) dikembalikan sebelum pemilu lokal. Ini bertentangan dengan kesepakatan Minks dukungan Rusia yang pasal-pasalnya menyebutkan, Ukraina baru bisa mengambil alih kendali perbatasan setelah pemilu lokal di Donetz dan Lugansk.

- Advertisement -