GURU MANEGES (I)

114 views
Kata Togog, masih beruntung hanya tak boleh kawin dengan bidadari. Kalau di DIY, Prabu Nilakruda pasti dilarang punya tanah.
- Advertisement -

KAHYANGAN Jonggring Salaka tempat tinggal para dewa, lokasinya tak seluas bumi di ngercapada. Sama-sama planet dalam tatasurya, ukurannya hanya sepersepuluh dari luas dan besarnya bumi. Karenanya jumlah penduduk sebagai penghuninya tak sebanyak makhluk di bumi. Maka Sanghyang Tunggal di istana Ngondar-andir Bawana, memberi dispensasi semua wayang Jonggring Salaka terbebas dari kematian, kecuali Betara Kamajaya dan Dewi Ratih istrinya.

Menurut naskah kakawin Smaradahana, para dewa di kahyangan terbebas kematian berkat minum Tirta Amretta, yang kala itu dibagikan cuma-cuma di Jonggring Salaka. Semua dewa dapat jatah minuman istimewa itu, meski ukurannya hanya sebesar Akua gelasan. Sayangnya, pas pembagian Kamajaya-Ratih suami istri sedang ikut paket wisata halal, jalan-jalan ke bumi.

“Kenapa kangmas Kamajaya tidak protes? Ini namanya Sanghyang Tunggal diskriminatif pada makhluk ciptaannya. Sesama dewa, kenapa memperoleh perlakuan berbeda?” keluh Bethari Ratih.

“Justru kita ini beruntung, diajeng. Kematian itu adalah titik akhir dari semua penderitaan.  Jika menjadi dewa hidup terus ngebelangsak, mendingan mati saja.  Diajeng Ratih tahu sendiri kan, banyak makhluk bumi terjun dari apartemen atau minum bier oplosan, karena putus asa menjalani hidup,” jawab Bethara Kamajaya santai.

Demikianlah, Kamajaya – Ratih harus menerima takdir Sanghyang Tunggal, mereka diperlakukan sama dengan makhluk di bumi, yang sehari-hari minum Akua galonan, yang kadang-kadang dipalsukan pula. Artinya, bila bila kelak keduanya mati, harus dimakamkan di bumi, misalnya di TPU Ngagel, Surabaya, bukan Suralaya nama lain Jonggring Salaka. Di samping itu, di kahyangan memang tak ada TPU dan Krematorium.

Namun ironisnya, meski jatah umur makhluk di ngercapada dibuat pas bandrol, masih juga selalu memanjakan hawa nafsu, mereka lupa bahwa hidup di bumi itu sekedar mampir ngombe (numpang minum). Seperti misalnya, Prabu Nilakruda ratu gajah di Glagah Tinatar, kok pengin juga beristrikan  bidadari kahyangan yang katanya  enak digauli dan perlu.

- Advertisement -