Kobra Masuk Kampung

100 views
Di India sana, ular kobra bisa diperalat sebagai alat ngamen. Mendengar suara suling, ular kobra akan meliuk-liuk menari.
- Advertisement -

DI era gombalisasi ini, spesies ular kobra ikut-ikutan berlagak seperti pejabat negara. Jika Jokowi sejak jadi walikota, gubernur hingga presiden suka blusukan, maka bulan Nopember dan Desember ini, ular kobra  ikut-ikutan suka blusukan masuk kampung. Maka jika jaman Orba ada Koran Masuk Desa (KMD) yang dicanangkan Menpen Harmoko, kini KMD justru mengandung makna: Kobra Masuk Desa.

Minggu-minggu belakangan ini ular kobra bikin heboh berbagai kota. Dari yang dewasa sampai anakan, kompak “menteror” penduduk. Tapi kata para ahli, turun hujan pertama memang musimnya telur kobra menetas. Peneliti reptile dari Pusat Penelitian Biologi LIPI Amir Hamidy mengatakan,  ular kobra di Indonesia terdiri dadi dua jenis. Jenis naja sumatrana hidup di pulau  Sumatera, dan naja sputarix hidup di pulau Jawa. Pada bulan Nopember-Desember saatnya hujan pertama, telur kobra menetas.

Belakangan ini orang sedang dibikin heboh banyaknya ular kobra masuk kampung. Dari Jakarta, Depok, Purwakarta, Gunung Kidul, Jember, Surabaya, petugas Damkar sibuk mengevakuasi kobra anakan dan indukan yang masuk kampung. Bahkan sejumlah di antaranya telah menggigit orang. Bahkan di Sukabumi, suami istri tewas bergantian digigit ular belang.

Di Solo, kantor Walikota juga sering dimasuki ular, mengingat banyaknya saluran penghubung menuju kali. Namun demikian Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo tenang-tenang saja, karena sejak muda dia suka main ular. Ular beneran, bukan permainan Ular Tangga. Bagi Pak Wali yang ditakuti justru orang yang suka “ngulo” alias demen cari muka, ngathok atau golek pendhok kata orang Solo. Di kota ini, memang sering terdengar orang ngomong, “Ngati-ati karo Paijan, kae wonge seneng ngula….!”

Yang namanya ular, baik yang berbisa maupun tidak, selalu saja bikin takut orang. Maka di dunia kepolisian, ular kabarnya juga diambil jasanya sebagai alat pemeriksaan. Jika ditemukan tersangka mbulet tak mau ngaku, dilemparkanlah ular di depannya. Langsung tersangka akan terkencing-kencing mengakui segala perbuatannya, meski ular tersebut sebenarnya tidak membahayakan.

- Advertisement -