KL Summit 2019: Konsolidasi Kekuatan Islam

35 views
(dari kanan) - Presiden Iran, Hassan Rouhani, PM Malaysia Mahathir Mohamad dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pertemuan negara muslim, Kuala Lumpur Summit 2019, Kamis (19/12).
- Advertisement -

PM MALAYSIA Mahathir Mohamad mengimbau muslim sedunia agar menghindari aksi kekerasan dalam bentuk apa pun karena tindakan semacam itu sia-sia untuk melawan islamofobia.

Mahathir menyatakan hal itu selaku Ketua Kuala Lumpur Summit 2019 (KLS 2019) yang digelar Kamis, (19/12) diikuti sejumlah delegasi negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas muslim. Tidak semua dari seluruhnya 56 negara negara muslim dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengirimkan wakilnya.

Hadir antara lain Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani, Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan dan Presiden Iran Hassan Rouhani.

KLS 2019 dibayangi perpecahan di kalangan dunia Islam, tercermin dari pernyataan Sekjen OKI Yousef al-Othaimeh yang menganggap helat itu justru memecah belah muslim, karena menurut dia, selayaknya persoalan dunia Islam didiskusikan di forum OKI.

Absennya PM Pakistan, Imran Khan yang semula bersama tuan rumah, PM Mahathir Mohamad dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memrakasai KLS 2019 juga memperkuat sinyal adanya perpecahan itu karena ia diduga ditekan oleh Raja Arab Saudi yang juga menolak hadir.

Lebih jauh PM Mahathir mengatakan, walau pun dalam kondisi marah atau frustrasi dunia Islam tidak bisa mengobarkan perang konvensional, karena tidak bakal ada yang mendukung.

“Apa yang kita dapatkan dengan melakukan tindakan kekerasan membabib-buta? Tidak ada sama sekali!, “ujarnya seraya menambahkan, umat Islam bisa saja mengaku tidak menganjurkan kekerasan, tetapi hal itu akan mudah dinegasikan jika aksi yang dilakukan karena dipicu kemarahan.

Persepsi Global terhadap Islam
Mahathir dalam sambutannya juga menyinggung persepsi global terhadap Islam dan peradaban Islam, reformasi serta transformasi pemerintahan.

Ia mengingatkan, tak satu pun negara dengan mayoritas penduduk muslim yang diklasifikasikan sebagai negara maju, sedangkan Presiden Iran Rouhani lebih menekankan persatuan dunia Islam menghadapi pengaruh globalisasi dan AS.

- Advertisement -