GURU MANEGES (II)

70 views
Betara Guru tak peduli, sehingga Betara Kamajaya pun keluarkan panah ajimatnya.
- Advertisement -

SESUNGGUHNYA pemerintahan Jonggring Salaka kala itu sedang vacum. Soalnya Betara Guru sebagai pejabat definitip, sedang bertapa di Gunung Mahameru, tak jauh dari Gunung Sahari.  Semenjak bertapa, beliaunya memilih mundur dari tampuk pemerintahan. Hal ini menimbulkanm kontroversi. Sebab menurut konstitusi kahyangan, ratu dan patih haruslah satu paket. Artinya, Betara Guru berhenti,  Narada harus berhenti pula. Oleh karena itu patih kahyangan sekarang dianggap tidak sah, dan akhirnya digugat uji materi ke Mahkamah Konstitusi. Hasilnya, mulai pukul 14.30 hari keputusan MK, Betara Narada sudah bukan lagi patih Jonggring Salaka.

Mengapa Betara Guru ndadak bertapa? Sebagai penguasa kahyangan kok sampai maneges (bertanya) segala, itu namanya logikanya terbalik-balik. Bisa ditertawakan Rocky Gerung. Yang maneges biasanya kan para kawula ngercapada kepada dewa. Kalau Guru masih maneges juga, ditujukan kepada siapa? Apa kepada Mendikbud Nadiem Makarim? Apa keluhannya? Apakah mau protes Ujian Nasional dihapus, atau merasa tunjangan sertifikasi terlalu kecil?

“Bagaimana ini Sanghyang Bayu, Betara Narada nggak mau ikut campur tangan lagi. Padahal pasukan Nilakrudha semakin merangsek,” Betara Penyarikan bingung mencari solusi.

“Cilekek! Padahal ini yang bisa mengalahkan Prabu Nilakrudha hanyalah Betara Guru. Betara Kamajaya diminta menyusul segera” perintah Betara Bayu sebagai pejabat Plt raja di kahyangan.

Sebetulnya Betara Kamajaya masih kecapekan, karena baru saja pulang dari study banding lingkungan hidup bersama istri ke Kepulauan Seribu, khususnya ke pulau reklamasi Bangkrut Bersama. Tapi sebagai dewa bawahan, ya harus berangkat juga. Dia memilih naik Gojek saja. Mobil sebenarnya ada juga, tapi pakai gas, sedangkan di kahyangan SPBU gas belum merata. Biang keroknya memang Betara Narada juga. Oleh pemerintahan Betara Guru – Patih Narada penggunanan bensin dibatasi, para dewa diwajibkan pakai gas. Tapi agen tunggal penyaluran gas Betara Narada sendiri. Ini kan sama saja korupsi kebijakan. Maka para dewa berharap, di kahyangan dihadirkan Sanghyang Erick Tohir.

- Advertisement -