GURU MANEGES (II)

65 views
- Advertisement -

Tiba di Gunung Mahameru Betara Kamajaya segera menghampiri Betara Guru yang masih khusyuk bersemedi. Rasanya sudah kehabisan kata-kata untuk membujuknya pulang, karena situasi sudah mendekati UGD unit  gawat darurat. Tapi Betara Guru tetap bersemedi dengan arah ke timur laut, presis tentara Peta seikirei di jaman Jepang dulu.

“Pukulun, mohon segera kembali ke Jonggring Salaka. Bale Marcakundha kritis menjurus anarkis,” ujar Kamajaya sambil mengkilik-kilik telapak kaki Hyang Jagad Pratingkah. Maksudnya agar membatalkan semedinya.

“Auah gelap……” jawab Betara Guru seenaknya.

Betara Guru tetap cuek bebek. Lama-lama Betara Kamajaya jengkel, sehingga lalu melepas panah kyai Cakrakembang, siuttttt…..jgerrrrr! Anak panah tersebut begitu menghantam tubuh Betara Guru justru berubah menjadi kembang beraneka macam, menimbun habis tubuh Betara Guru. Bau aroma kembang semerbak mewangi, seketika membangkitkan asmara dan birahinya. Beliaunya langsung ingat bininya yang ditinggal di istana Bale Marcakunda, yang sudah beberapa minggu tak digilir.

“Tolong pukulun, pulangnya ke Bale Marcakunda entar-entar saja. Yang penting ke Repat Kepanasan, pasukan Prabu Nilakruda sudah mulai anarkis nih,” Betara Kamajaya mengingatkan.

“Sabar kenapa sih, nyolong waktu satu jam saja masak nggak boleh.” Betara Guru protes, wajahnya nampak mesum, saking kangennya pada Dewi Uma.

Betara Guru menghentikan semedinya. Waktu menunjuk pukul 04.00 pagi, burung-burung mulai berkicau riang di pepohonan. Betara Guru meninggalkan tempat bertapa, hendak pulang langsung ke Bale Marcakunda. Agak aneh memang, guru pukul 04.00 pagi sudah jalan, mengajarnya di mana dia, atau sengaja menghindari kemacetan?

“Tuh kan, urusan negara dikalahkan urusan perempuan, dasar….” sindir Betara Kamajaya, karena sudah hafal dengan kelakuan Betara Guru.

“Sok tahu lu ah…..”, bentak Betara Guru.

- Advertisement -