GURU MANEGES (II)

65 views
- Advertisement -

Tiba di  Bale Marcakundha, Betara Guru hanya menemukan kekecewaan belaka. Ternyata Dewi Uma sedang “palang merah”, kepala jadi pusing! Dicarilah kambing hitam, dan kesalahan itu kemudian ditimpakan pada Bethara Kamajaya. Coba, gara orang lagi semedi diganggu, akhirnya Betara Guru menjadi Lebai Malang. Wisik dari Sanghyang Wenang tidak hadir, ingin bermesraan dengan Dewi Uma juga batal.

Marahlah raja Jonggring Salaka itu. Matanya tiba-tiba tambah menjadi tiga, yang dua normal yang mata tambahan minus 2 pakai silinder lagi. Tapi ketika ketiga mata itu serentak memancarkan sinar ditujukan kepada Betara Kamajaya, kehebatannya melebihi sinar LASER (Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation).

“Kamu memang dewa jahat, dengki tanpa alasan. Rasakan sekarang, tak menyaksikan malam Tahun Baru kamu…!” Betara Guru memaki Kamajaya habis-habisan.

“Ampun, ampun, pukulun, Jangan bunuh aku, biniku lagi hami…..,” rengek Betara Kamajaya.

Betara Guru tak peduli. Betara Kamajaya yang dulu tak kebagian limun Tirta Amretta, seketika hancur lebur menjadi debu. Dewi Ratih nangis Bombay. Maklum, bidadari cantik jelita itu belum siap menjadi janda. Sebetulnya Betara Guru ingin “menghajar” Dewi Ratih, sebagai pengganti istrinya. Tapi ketika Kamajaya bilang istri sedang hamil, mendadak Betara Guru ngedrop syahwatnya. Bagaimana pun juga raja kahyangan tidak boleh hanya jadi “generasi penerus”.

Tapi justru Betara Guru ingat tanggungjawabnya sebagai raja Jonggring Salaka. Dia tak rela negerinya diobok-obok Prabu Nilakruda. Karenanya tanpa disuruh lagi Betara Guru segera turun ke Repat Kepanasan, melawan Prabu Nilakrida.

“Mana Prabu Nilakruda, elo jual gua beli….!” Tantang Betara Guru.

                                                                           (Ki Guna Watoncarita – tamat)

- Advertisement -