Di Laut, China Makin Perkasa

409 views
China luncurkan kapal induk pertama buatan dalam negerinya, Shandong bernilai 13 milyar dolar AS (sekitar Rp 182 triliun). Ini kapal induk kedua yang dimiliki AL China, dan dua lagi akan dibangun dalam enam tahun ini.
- Advertisement -

ARMADA laut China semakin jaya dengan diluncurkannya kapal induk pertama, Shandong buatan galangan dalam negeri, salah satu dari tiga yang kapal yang dibangun dalam kurun waktu enam tahun ke depan.

Kapal dengan panjang haluan 300M,lebar 75M dan bobot 50-ribu ton yang dibangun di galangan Dalian, China itu mampu mengangkut sampai 40 unit jet tempur J-15 Shenyang, juga buatan dalam negeri -“copy paste” Sukhoi SU-33 Rusia – serta beberapa helikopter.

Sebelumnya, AL China sudah mengoperasikan kapal induk ex-negara sempalan Uni Soviet, Liaoning dengan bobot lebih kecil dan daya angkut 16 unit pesawat J-15. Kapal dalam kondisi belum jadi milik AL Ukraina yang pengerjaannya mangkrak pasca Perang Dingin, dibeli China dan kemudian dirampungkan.

Dengan meniru rancang bangun Liaoning, Shandong memiliki ciri khasnya yakni landasan dengan jalur lompat (ski jump) guna menambah daya lontar jet tempur saat take off, berbeda dengan sistem ketapel seperti yang digunakan di kapal-kapal induk AS.

Teknologi lompat ski yang dipasang di ujung geladak untuk meluncurkan pesawat dengan kekuatannya sendiri, relatif lebih tua ketimbang teknologi lontaran ketapel yang dianggap lebih sophisticated.

Pesawat yang diluncurkan oleh ketapel dapat mengudara dengan lebih cepat dibandingkan dengan jika pesawat mengandalkan kekuatan sendiri saat lepas landas dari lompatan ski.

Sementara mesin penggerak Liaoning dan Shandong masih menggunakan turbin uap dan generator diesel, berbeda dengan dua unit kapal induk lagi yang akan dibangun, menggunakan reaktor nuklir.

Ambisi China menjadi yang terkuat di dunia, tercermin dari peningkatan 7,5 persen anggaran militer pada 2019 menjadi 177,5 milyar dolar AS atau sekitar Rp2.500 triliun.

Sebagai perbandingan: APBN Indonesia 2019 tercatat sekitar Rp2.460 triliun, sedangkan alokasi anggaran belanja militer hanya Rp106 triliun saja atau sekitar seperduapuluh empat anggaran militer China, apalagi 60 persennya digunakan untuk membayar gaji prajurit.

- Advertisement -