Rusia Klaim Miliki Rudal Tercanggih

350 views
Rudal hipersonik yang mampu membawa kepala nuklir terbaru Rusia, Avangard (Pelopor) dan melesat dengan 10 kali kecepatan suara disebut-sebut tidak tertandingi dan tidak bisa dicegat sistem pertahanan udara atau rudal anti rudal musuh dari mana pun.
- Advertisement -

DI TENGAH masih tingginya angka kemiskinan global yakni sekitar 736 juta orang atau 10 persen dari total penduduk dunia, perlombaan senjata pemusnah massal diam-diam masih terus berlangsung di era pasca Perang Dingin.

Buktinya, Presiden Rusia Vladimir Putin di depan para komandan militer di Moskow, Selasa lalu (24/12) sesumbar, negerinya telah memiliki rudal hipersonik yang tidak tertandingi oleh negara mana pun.

“Tak satu pun negara lain yang memiliki rudal hipersonik, apalagi yang menjangkau antarbenua, “ ujarnya, menyebutkan rudal Avangard (Vanguard atau sang Pelopor) yang mampu melesat dalam 10 kali kecepatan suara sudah bisa dioperasikan akhir 2019.

Berdaya jangkau 2.000 Km, selain super cepat, Avangard konon juga mustahil dicegat sistem pertahanan udara atau rudal-rudal lawan, karena tidak seperti jenis-jenis rudal lain yang melayang di lintasannya mengikuti pengaruh gravitasi, Avangard bisa mengubah lintasannya.

Menurut catatan, Rusia sebelumnya juga sudah mengoperasikan rudal hipersonik 3M-22 Zircon yang bisa diluncurkan melalui kapal selam atau kapal permukaan, namun kecepatannya lebih rendah (delapan kali suara) dibandingkan Avangard dan berdaya jangkau hanya sekitar 400 Km.

Negaranya, menurut Putin, juga sedang terus mengembangkan alutsista lain seperti rudal balistik antarbenua (ICBM) Sarmat dan kapal nirawak bertenaga nuklir Poseidon serta rudal jelajah nuklir Burevestnik.

Selain Rusia, China kabarnya juga memiliki sejumlah varian rudal Dong – Feng (DF – Angin Timur) berkecepatan sampai delapan kali kecepatan suara dan yang terjauh bisa menjangkau target termasuk kapal induk pada jarak 8.000 Km.

Demi Efektivitas START
Para pejabat Kementerian Pertahanan Rusia menjelaskan, unjuk gigi senjata baru dilakukan pihaknya untuk membantu memastikan “kelayakan dan efektivitas” traktat Pengurangan Senjata Strategis (Strategic Arms Reduction Treaty – START) yang ditandatangani dengan AS pada 1991 antara Presiden AS Ronald Reagan dan Presiden Rusia Mikhail Gorbachev dan mulai diberlakukan pada 1994.

- Advertisement -