Libya di Ambang Perang Saudara

451 views
Libya paska tumbangnya rezim otoriter Moammar Khadafi (Oktober 2011) terus dilanda konflik, kini malah diambang perang saudara, menyeret sejumlah negara di kawasan serta Turki, Rusia, Perancis dan Itali.
- Advertisement -

TUMBANGNYA rezim diktator bengis Muammar Khadafi yang berkuasa di Libya selama 42 tahun tak serta merta membawa perubahan ke arah lebih baik, tetapi sebaliknya, negara itu kini justeru di ambang perang saudara lebih ruwet lagi.

Khadafi digulingkan, lalu tewas di tangan pasukan oposisi Transisi Nasional Libya (NTC) yang menemukan persembunyiannya di sebuah gorong-orong di kota kelahirannya, Sirte, 20 Oktober 2011.

Kejatuhan rezim Khadafi terjadi di tengah gerakan tuntutan pembaruan gelombang pertama di sejumlah negara Arab yakni di Mesir, Tunisia, Suriah dan Yaman selain Libya atau dikenal dengan musim semi Arab (Arab Spring) gelombang pertama di awal 2011.

Sayang, hanya Tunisia yang berhasil keluar dari era diktator pasca tumbangnya rezim Presiden Zine el Abidine bin Ali, sedangkan Suriah, Yaman dan Libya malah terperangkap dalam perang saudara, sementara Mesir kembali di bawah rezim militer.

Tuntutan demokrasi atau disebut Arab Spring babak ke-2 muncul lagi pada 2019 antara lain di Aljazair, Irak, Iran, Lebanon dan Sudan, sementara di Libya sendiri, konflik antara dua kubu yang semula bahu-membahu menggulingkan Khadafi sangat mencemaskan karena menyeret tangan-tangan asing.

Kubu Pemerintah Kesepakatan Nasional (Government of National Accord – GNA) dipimpin PM Fayez Sarraj menguasai ibukota, Tripoli, sedangkan lawannya, kelompok Tentara Nasional Libya (LNA) dipimpin Khalifa Haftar menguasai wilayah timur negara itu, beribu kota di Tobruk.

Kubu GNA didukung Italia, Qatar dan juga Turki yang terjun langsung di tengah konflik dengan merencanakan pengiriman pasukannya untuk mendukung, sedangkan di belakang LNA antara lain ada Arab Saudi, Mesir, Perancis, Jordania, Rusia dan Uni Emirat Arab.

Di pihak lain, kelompok Negara Islam dan Irak dan Suriah (NIIS) yang berhasil ditumpas di kedua negara itu, sudah “mengintip-intip” untuk memindahkan basis perlawanan mereka ke Libya.

- Advertisement -