UDAWA SAYEMBARA

74 views
Maunya Sarjokesuma langsung nikah saja tanpa perang, tapi Patih Udawa keukuh harus melalui prosedur.
- Advertisement -

SARJOKESUMA layak marah. Sebab dalang cap apapun, asalkan ambil lakon anak-anak Pandawa menikah, yang dijadikan korban pastilah putra Prabu Duryudana. Artinya, dirinya dipastikan jadi tokoh yang dikalahkan. Heboh di awal cerita, tapi selalu mengecewakan dirinya di akhir cerita. Sarjokesuma  dipastikan gagal memperoleh jodoh, sedangkan putri itu diambil alih oleh putra Pendawa, misalnya Abimanyu, Gatutkaca atau Antasena.

“Bodo amat, terserah dalangnya lah! Memang mereka sentiment ama gua.” Keluh Sarjakesuma,

“Ya jangan begitu. Kamu boleh putus kolor seribu kali, tapi jangan putus asa menjalani kehidupan,” nasihat Patih Sengkuni asal-asalan.

Terlepas dari klaim Sarjokesuma, Prabu Duryudana memang kepengin sekali segera ngudang putu (menimang cucu). Maka meski sang putra mahkota setengah putus asa, Prabu Duryudana – Banowati terus berusaha mencarikan jodoh buat anak sulungnya. Maksud paduka raja, setelah menikah nanti dengan Dewi Rarasati, Sarjokesuma diminta untuk berdikari. Jika perlu diambilkan rumah susun di Jakarta yang DP-nya nol rupiah.

Beberapa hari lalu Prabu Duryudana menggelar sidang kerajaan terbatas, untuk membicarakan rencana perkawinan Sarjokesuma-Rarasati, adik Patih Udawa. Seakan sudah pasti saja, sehingga siang itu acara sudah mirip-mirip kumbakarnan (rapat persiapan perkawinan ala Solo).

“Interupsi anak prabu. Sarjokesuma kan masih mbocahi, kenapa musti dinikahkan buru-buru, macam kabis ketangkep Hansip saja. Mending carikan pasangan untuk Wakne Gondhel, yang hidup menduda dari jaman Dinasti Ming. Kasihan dia, setiap malam kerokan melulu..” Patih Sengkuni memotong pembicaraan.

“Nanti dulu Dhi Cuni. Sampeyan itu tulus mengusulkan, atau mau cari panggung untuk meledek saya? Mentang-mentang Pendhita Durna asal hendak menikah pasti batal? Ooo, patih kok syirik. Benci aku….!” protes Pandita Durna sepertinya tersinggung pol.

- Advertisement -