UDAWA SAYEMBARA

111 views
- Advertisement -

Ironis memang, dalam sidang istana kerajaan yang sakral, kok malah gaduh sendiri macam mentri-mentrinya Jokowi di Kabinet Indonesia Kerja. Untung saja segera dipisah Prabu Baladewa, sehingga konflik horisontal antara Sengkuni – Durna tidak sampai berkepanjangan. Sekarang kembali fokus membicarakan keinginan Prabu Duryudana. Intinya, Prabu Baladewa ditugaskan melamar Dewi Rarasati putri Widarakandhang untuk Sarjokesuma.

“Kenapa harus saya, yayi Prabu Duryudana? Saya ini kan wayang sumbu pendek, tak bisa menahan emosi saat dikecewakan orang.” Kata Prabu Baladewa sudah pesimis duluan.

“Justru saya menugaskan kangmas Baladewa, karena kangmas sudah akrab dengan Patih Udawa sedari muda di Widarakandang dulu. Apapun jika ada koneksi kan beda.” Jawab Prabu Duryudana mencoba menjelaskan.

Sesungguhnya Prabu Baladewa kurang sreg didaulat macam begituan. Sebagai raja Mandura, dia paling malas intervensi apapun bentuknya. Patih Udawa menggelar sayembara itu kan sudah menjadi haknya sebagai warga negara, yang penting ada izin dari Kementrian Sosial. Bila kemudian Rarasati diminta gratisan gara-gara lobi-lobi kekerabatan, keenakan Sarjokesuma dong! Tanpa modal kok tahu-tahu unjuk alat vital.

“Maksud saya, mengirim kontingen jago calon pengantin itu perlu anggaran besar, jika dipegang orang lain, bisa disalah-gunakan.  Padahal Ngastina sedang devisit anggaran, jika sampai dimark up bagaimana?” Prabu Duryudana terpaksa buka kartu.

“O kalau begitu sih,  terkejaba (terkecuali), saya terpaksa mau.”

Patih Udawa minggu-minggu ini sedang cuti di luar tanggungan negara. Patih Dwarawati tersebur kini tengah sibuk ngurusi sayembara pilih atau alap-alapan Rarasati, adik kandungnya yang tengah menjadi kembang kampung. Perizinan di Kementrian Sosial sudah selesai diurus, tapi lalu apa  kriteri untuk menyaring peserta? Jika tanpa disortir, Udawa bisa capek deh karena harus berperang dengan banyak peserta.

- Advertisement -