UDAWA SAYEMBARA

111 views
- Advertisement -

“Tapi citraku yang hancur, dong. Bagaimana mungkin, aku yang selalu kampanye penegakan hukum, kok sekarang malah intervensi hukum  negeri orang.” Alasan Prabu Baladewa.

Singkat cerita, Patih Pragota – Prabowo langsung mengajak Sarjokesuma untuk tampil dalam sayembara. Maunya, begitu perang tanding usai, Sarjokesuma langsung dinikahkan dengan Dewi Rarasati. Oleh karenanya saat berangkat ke Widarakandhang, Sarjokesuma telah mempersiapkan surat model NA untuk numpang nikah. Bukan itu saja, sepanjang perjalanan Sarjokesuma sibuk membaca buku “Surga Perkawinan” karangan Amir Taat Nast (Pustaka Endang – 1956), katanya sekedar untuk panduan malam pertama nanti.

“Sampai di sana, langsung akad nikah kan Pakde? Saya terima nikahnya Rarasati dengan maskawin seperangkat alat salat, dibayar tunai….,” ujar Sarjokesuma berkhayal.

“Mbok sabar sedikit, kenapa. Sesuatu belum jelas kan sudah dibayang-bayangkan.” Ujar Pragota.

Tiba di Widarakandhang ternyata misi Pragota – Prabowo gagal, sebab meskipun adik sendiri, Patih Udawa tak bisa ditawar. Mau tak mau mereka harus turun gelanggang, jika memang serius ingin memboyong Dewi Rarasati. Paling celaka, karena sayembara perangnya pakai “sistim gugur”, Pragota – Prabawa tak bisa ketemu langsung dengan Udawa, melainkan harus berperang dulu melawan Prabu Handayaningrat. Alhamdulilah, masih menang. Tapi setelah harus melawan Harjuna, meskipun keroyokan Harjuna tak bisa  dikalahkan. Walhasil trio Pragota – Prabowo – Sarjokesuma harus puas hanya menjadi penonton alias keok.

Sarjokesuma menangis, kenapa sekali hidup di dunia susah amat mencari jodoh. Padahal leluhurnya eyang Begawan Palasara, meski sudah lanjut usia dan gondrong macam Ridwan Saidi, merayu cewek Dewi Durgandini di atas perahu, masih dapet saja.

“Pakdhe, yuk pulang saja. Saya  kadung patah hati nih,” Sarjokesuma terisak-isak menahan tangis. Buku panduan bercinta dibuang entah ke mana.

- Advertisement -