Banjir Tahun Baru 2020

90 views
- Advertisement -

Tempat lain yang kebanjiran antara lain, perumahan warga di Jalan Surilang, Kelurahan Gedong, Pasar Rebo, ketinggian mencapai 30-70 cm. Di Jalan Marga Jaya, Rawa Buaya, hingga Kelurahan Cengkareng, Jakarta Barat, juga  terkena. Di Jakarta Pusat, banjir juga memasuki rumah warga di Jalan Bangau 6 dan Jalan Gunung Sahari. Jakarta Pusat. Di pinggiran Jakarta, banjir melanda wilayah Rawa Panjang, Bekasi Timur. Oleh karenanya sejumlah pintu air di Jakarta dinyatakan status siaga satu hingga siaga tiga. Seperti di pintu air Karet dinyatakan siaga 1. Sementara di pintu air Manggari dinyatakan siaga 3.

Jika sudah demikian kondisinya, maka di sinilah saatnya Gubernur Anies bakal banjir omelan dari penduduk DKI yang ingin maju kotanya bahagia warganya. Mana program mengatasi banjir di Ibukota? Mana program naturalisasi kali-kali di Jakarta? Mana  saluran vertikal yang mampu mengatasi banjir di Jakarta. Anggaran APBD hampir Rp 100 triliun, pakai dong secara tepat guna, bukan malah ngurusi balapan mobil listrik Formula E yang biayanya sampai Rp 1,3 triliun.

Jaman kampanye Pilgub dulu Anies Baswedan memang mencoba mematahkan teori penanggulangan banjir ala Gubernur Ahok. Katanya, air meresap ke tanah itu sunatullah, karenanya perlu saluran vertikal (resapan). Dengan sistem normalisasi yang artinya pembetonan tanggul, air mengalir ke laut.

Tapi program naturalisasi kali, dengan cara menanami pohon-pohon di tanggul kali, diragukan oleh Kementerian PU-PR. Banjir kan perlu penanggulangan cepat, dengan beton banjir bisa diatasi dengan segera. Tapi dengan menanami pepohonan, sampai jabatan Anies 5 tahun habis, pohon di kali juga belum gede.

Masa jabatan Gubernur Anies tinggal 2,5 tahun lagi.  Maka mumpung pohon naturalisasi itu belum ditanam, lupakan saja. Percuma! Soalnya, meski sudah kadung ditanam, oleh gubernur penggantinya pastilah akan dibongkar kembali, karena cenderung pada program normalisasi. Begitu pula pelebaran trotoar di berbagai penjuru kota, juga akan dibongkar lagi, dikembalikan ke posisi semula. Itulah kerja gubernur tak paham skala prioritas, sehingga harus buang-buang anggaran percuma. (Cantrik Mataram)

- Advertisement -