Pembelajaran Empati dari Denmark

47 views
Tawuran antarsiswa atau remaja yang sering terjadi di kota-kota besar akibat hal-hal sepele, bahkan tanpa penyebab sama sekali salah satunya terjadi karena absenya sikap empati yang kurang ditanamkan sejak usia dini.
- Advertisement -

DENMARK selama beberapa tahun berturut-turut termasuk salah satu negara yang penduduknya paling berbahagia, antara lain berkat kurikulum pendidikan tentang empati yang diajarkan sejak 1993.

Berdasarkan World Happiness Report 2019, Finlandia, Denmark, Norwegia, Islandia dan Belanda menempati lima besar negara paling bahagia dari seluruhnya 159 negara yang dinilai, sedangkan Indonesia berada di rangking ke – 92 dan urutan lima terbawah yakni Sudan Selatan, Afrika Tengah, Afghanistan, Tanzania dan Rwanda.

Orang sering tak menyadari, empati perlu ditanamkan sejak usia dini karena tidak saja akan membuat anak-anak bersikap arif secara emosional dan sosial, jauh dari sikap melecehkan atau melakukan perundungan satu dan lainnya, juga menjadi kunci sukses di masa depannya.

Kurikulum tentang empati dijarkan satu jam setiap pekan sejak anak didik berusia enam tahun (mulai masuk SD) hingga 16 tahun atau tamat SLA dengan sasaran untuk membentuk karakter mereka saat terjun ke masyarakat nanti.

Contohnya, siswa-siswi berkumpul santai di ruang terbuka, berdialog dan mencari solusi suatu persoalan pribadi, isu yang sedang viral di medso atau persoalan sehari-hari saat mereka berinteraksi dengan siswa atau orang lain.

Guru dan murid saling berdebat atau berargumentasi, tentunya dengan acuan yang jelas seperti hukum, nilai-nilai budaya dan norma yag berlaku, tidak asal “nyinyir” atau “ngeyel”. Guru berperan pula mengarahkan agar anak didik bisa menjadi pendengar yang baik dan memahami cara pandang orang lain.

Saat tidak berdiskusi pun, ada waktu bagi murid-murid untuk sekedar ngumpul sesuai dengan konsep pembelajaran kolaboratif yang digagas oleh pendidik dan penulis Denmark Iben Sandahl.

Empati diajarkan di sekolah-sekolah di Denmark, pertama melalui kerja kelompok, fokus pada upaya membangun dan meningkatkan keterampilan dan bakat tiap siswa ketimbang mendorong persaingan diantara mereka.

- Advertisement -