AS dan Iran sama-sama “Emoh” Perang

74 views
Aksi demo di gelar di sejumlah kota di AS menentang perang AS dan Iran pasca kematian Jenderal Qassem Soleimani (3/1) lalu akibat rudal AS. Demo juga digelar di sejumlah kota di AS dan Iran memprotes salah tembak oleh rudal Iran terhadap pesawat penumpang Boeing B737-800 Ukraina, menewaskan 176 penumpang dan awaknya (8/1).

SALING ancam antara Amerika Serikat dan Iran pasca tewasnya Jenderal Iran Qassem Soleimani di Irak sempat menciptakan eskalasi ketegangan yang bisa memicu konflik terbuka.

Militer Iran membalas kematian Soleimani dengan menghujani kam militer AS Ain-al Assad dan Harir di Irak dengan 22 rudal balistik (8/1) walau dilaporkan tidak ada korban karena kedua lokasi sudah keburu dikosongkan.

Soleimani yang menjabat panglima divisi al Quds, satuan elit Garda Revolusi Iran di Irak tewas dirudal drone AS saat berkendara dari bandara di Baghdad bersama dua petinggi milisi pro Iran lainnya (3/1).

Terlepas dari pro-kontra terkait serangan tersebut, di sisi lain bisa terbaca pula, dengan kecanggihan teknologinya, AS leluasa mengincar petinggi militer musuhnya dengan mudah.

Sebaliknya, jatuhnya pesawat Boeing B737-800 Ukraina bersama seluruhnya 176 awak dan penumpang akibat salah tembak oleh operator rudal Iran saat baru tinggal landas dari Bandara Teheran (8/1) juga menjadi salah satu indikator (kekurang) andalan teknologinya.

Begitu pula dengan serangan 22 rudal balistik Iran berharga triliunan rupiah, tanpa kerusakan atau korban jiwa satu pun di pihak lawan tentu juga bisa dijadikan bahan kajian.

Sementara itu, ribuan pekerja asing, terutama dari Korea Selatan dan Filipina di Irak sudah siap-siap dievakuasi ke negara masing-masing jika perang benar-benar pecah, namun ternyata ketegangan malah mereda.

Irak bisa jadi menjadi target serangan bila pecah perang antara AS dan Iran, karena Brigade al Quds Iran yang ditempatkan di wilayah tetangganya itu diperkirakan akan menyerang sasaran-sasaran AS di sana.

Namun kedua pemimpin negara yang berseteru, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Hassan Rouhani pada intinya tidak berniat untuk melanjutkan perang yang bakal menyengsarakan rakyat mereka.