Taiwan Pertahankan Status Quo dengan China

479 views
Tsai Ing-wen, petahana yang dicalonkan oleh Partai Progresif Demokrat (DPP) memenangi pemilu Taiwan untuk periode kepemimpinan kedua (2020 - 2024). Diperkirakan tidak banyak perubahan dalam relasi hubungan Taiwan dan China daratan.
- Advertisement -

KEMENANGAN Tsai Ing-wen, petahana calon dari Partai Progresif Demokrat (DPP) dalam pilpres Taiwan, Sabtu lalu (11/1) agaknya membuat relasi wilayah ini dengan China tetap terjaga.

Tsai Ing-wen unggul dengan dengan 57,1 persen suara, sedangkan pesaing utamanya Han Kuo-yu dari Partai Kuomintang (KMT) dengan 38,6 persen suara.

Sementara dalam pemilu legislatif yang juga digelar berbarengan dengan pilpres, DPP juga menguasai mayoritas dengan merebut 61 dari seluruhnya 113 kursi yang tersedia.

Jubir Pemerintah China Urusan Taiwan Ma Xiaoguang dalam pernyataannya mengatakan, pemerintahnya akan tegas membela keutuhan wilayahnya dan menentang aksi separatis serta kemerdekaan Taiwan.

Kantor Berita Xinhua hanya menurunkan laporan singkat terkait hasil Pilpres Taiwan berjudul: “ Tsai terpilih kembali sebagai pemimpin kawasan Taiwan”, mencerminkan ekspresi Beijing menolak mengakui Taiwan sebagai negara dan Tsai sebagai kepala negara.

Pada bagian pernyataannya, Ma menegaskan lagi sikap China untuk menerapkan model “satu negara dua sistem” seperti yang dilakukan terhadap Hongkong dan bersedia bekerjasama dengan warga Taiwan untuk menyiapkan reunifikasi damai

China dengan kekuatan mesin perangnya yang saat ini menempati ke-2
setelah AS, sudah sering kali mengancam akan merebut kembali Taiwan yang melepaskan diri China di bawah Chiang kai-shek pada 1949.

Dengan belanja militer 250 milyar dollar AS (sekitar Rp3.500 triliun) tahun ini, AB China yang berkekuatan 2,7 juta personil, AL-nya memiliki dua kapal induk, 714 unit kapal perang berbagai jenis dan 76 kapal selam, AU dengan lebih 3.100 pesawat tempur, sementara AD memiliki 13-ribu tank, 40-ribu kendaraan lapisa baja an ratusan satuan rudal.

Sebaliknya, Taiwan dengan belanja pertahanan sekitar Rp169 triliun didukung 300 ribu tentara, 500-an pesawat tempur, 1.855 tank, 19 kapal perang berbagai jenis serta empat kapal selam.

Tentu saja jumlah alutsista tidak otomatis bisa dijadikan tolok ukur kekuatan nyata , karena walau tidak sebanding, jika pecah perang, di belakang Taiwan, ada AS dan negara-negara Barat lainnya.

Tsai dan mayoritas warga Taiwan saat ini walau cenderung mendukung kemerdekaan dan menolak reunifikasi, tidak menghendaki provokasi dan tetap ingin membuka dialog dengan penguasa China daratan.

- Advertisement -