Etika Berdialog di Dunia Digital, Perlu

34 views
Dunia digital menuntut tatanan etika, jika tidak, bakal dipengapi narasi kebencian, hoaks dan isu SARA yang merusak persatuan dan citra bangsa.
- Advertisement -

GREGET publik mengeskpresikan diri di media digital semakin baik dari sisi kehidupan berdemokrasi, namun jika tidak dibarengi tatanan etika, malah bisa menjadi kontra produktif dan berkembang menjadi anarkis.

Oleh sebab itu, pembelajaran terkait etika, budaya dan norma-norma hukum perlu diberikan kepada masyarakat agar wahana komunikasi digital tidak dipengapi atau menjadi ajang narasi ujaran kebencian, hoaks atau perundungan.

Menurut catatan penulis, sejumlah netizen akhirnya kecewa, kemudian memilif “left” misalnya setelah merasa terpojokkan oleh rekan-rekan Grup WA sesama alumni sekolah atau fakultas, padahal berkat WA lah, mereka bisa bersilaturahmi lagi setelah puluhan tahun kehilangan jejak.

Ada juga, member Grup WA “diremove” atas kesepakatan anggota lainnya yang risih atau gerah atas postingan bersangkutan yang sangat militan dan terkesan membabi buta membela kontestan tertentu atau menghujat kontestan lainnya dalam pilkada atau pilpres.

Lebih parah lagi jika hubungan kekerabatan dan persaudaraan, berubah menjadi perang dingin, bahkan putus hanya karena postingan-postingan anggota lainnya dalam Grup WA keluarga yang dianggap mengusik harmoni.

Rendahnya literasi masyarakat agaknya berkontribusi besar memicu konflik di di medsos digital, karena mereka akan membela habis-habisan kelompok mereka, bisa saja yang seetnis, sekeyakinan atau sesama pilihan kontestan tertentu.

Ditambah lagi dengan provokasi para elite atau politisi yang mengapitalisasi isu SARA demi kepentingan mereka mengunakan para buzzer yang “maju tak gentar membela yang mbayar”, membuat warga akar rumput semakin bingung, mana yang salah dan yang benar.

Sebagian politisi “all-out” atau habis-habisan membela jagonya. Benar atau salah bukan persoalan karena di era “post truth” (penyangkalan kebenaran), karena yang penting adalah kenyinyiran walau dengan semburan dusta (firehose of falsehood) sekali pun.

- Advertisement -